Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Sekolah Se-Kalbar banyak Beralih ke Pembelajaran Daring Mulai Hari Ini
“Kesehatan siswa adalah aset utama pendidikan. Tidak ada nilai akademik yang lebih berharga daripada paru-paru yang sehat. Maka, ketika udara menjadi racun, sekolah harus berhenti sejenak dari ruang fisik, namun tidak dari proses belajar.”
(Redaksi Homepublik.id)
PONTIANAK | 11 Agustus 2026 - Langit Kalimantan Barat kembali kelabu. Tebalnya kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Pontianak Tenggara, memaksa pemerintah mengambil langkah tegas. Mulai hari ini, Selasa (11/8/2026), seluruh siswa SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Kalimantan Barat resmi dialihkan dari pembelajaran tatap muka (PTM) ke pembelajaran daring (online). Kebijakan ini berlaku hingga Kamis, 14 Agustus 2026, dengan evaluasi lebih lanjut tergantung kondisi kualitas udara.
Keputusan ini diambil oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalbar sebagai respons antisipatif terhadap penurunan drastis Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Plt. Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan peserta didik adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.
Mengapa Harus Daring? Data Kualitas Udara Menjawab
Kondisi asap tebal yang terjadi bukan sekadar gangguan visual, melainkan ancaman kesehatan serius bagi anak-anak dan remaja yang sistem pernapasannya masih berkembang. Partikel halus PM2.5 dari pembakaran lahan gambut dan hutan diketahui dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk kondisi asma.
"Kita melihat kondisi kualitas udara di beberapa wilayah Kalimantan Barat yang terdampak asap akibat karhutla. Karena itu, untuk sementara pembelajaran tatap muka dialihkan menjadi pembelajaran daring," jelas Syarif Faisal.
Langkah ini sejalan dengan protokol tanggap darurat bencana asap yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan dan BMKG.
Tantangan Pembelajaran Daring di Tengah Krisis
Meskipun bertujuan melindungi kesehatan, peralihan mendadak ke sistem daring membawa tantangan tersendiri:
1. Kesenjangan Digital: Tidak semua siswa di daerah terpencil memiliki akses internet stabil atau perangkat memadai.
2. Efektivitas Belajar: Materi praktikum di SMK atau interaksi sosial di SLB sulit digantikan sepenuhnya oleh layar kaca.
3. Pengawasan Orang Tua: Banyak orang tua yang bekerja sehingga kesulitan memantau proses belajar anak di rumah.
Disdikbud Kalbar mengimbau kepada para guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran daring agar lebih fleksibel, tidak membebani siswa dengan tugas berlebihan, dan memanfaatkan platform yang ringan diakses. Sekolah juga diminta untuk tetap membuka kanal komunikasi bagi siswa yang mengalami kendala teknis.
Udara Bersih Adalah Hak Dasar Pendidikan
Kepada Pemprov Kalbar & Satgas Karhutla: percepatan pemadaman api dan water bombing harus menjadi prioritas nasional. Jangan biarkan asap menjadi "liburan paksa" yang berulang setiap tahun. Kepada Orang Tua & Siswa: gunakan waktu di rumah untuk belajar mandiri, tetapi juga pantau kondisi kesehatan. Jika gejala ISPA muncul, segera cari bantuan medis.
Karena sejatinya, sekolah terbaik adalah sekolah yang aman. Dan saat ini, atap terbaik bagi siswa Kalbar bukanlah gedung beton, melainkan langit yang bersih dari asap. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar generasi penerus bisa bernapas lega dan belajar dengan tenang. 🇮🇩
Sumber: Disdikbud Kalbar, Pernyataan Plt. Kadisdikbud Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, Data ISPU BMKG Stasiun Pemantau, & Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Pendidikan & Bencana Lingkungan Homepublik.id
Penulis: Sulaiman, S.Pd,. Redaksi Lokal Pontianak
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

