Alumni Darur Rosyad Jawab Isu Asusila dengan Akhlak
“Laula murobbi ma 'aroftu Robbi.”
(Andaikata tidak ada pendidikku, niscaya aku tidak akan mengenal Tuhanku).
(Doa Santri untuk Guru)
PONTIANAK, KALBAR | 5 Juni 2026 - Di tengah riuh rendah berita miring yang menerpa dunia pendidikan pesantren—khususnya isu-asusila yang melibatkan oknum pengasuh di berbagai daerah—Ikatan Santri Alumni Darur Rosyad (ISADAR) Kalimantan Barat hadir dengan sikap tegas namun santun. Melalui pertemuan rutin triwulanan, organisasi ini tidak hanya sekadar menyambung silaturahmi, tetapi juga menegaskan posisi sebagai penjaga marwah Pondok Pesantren Darur Rosyad di Sampang, Madura.
Pertemuan yang digelar secara berkala ini menjadi bukti nyata bahwa ikatan batin antara santri dan Masyaikh (para guru) tidak luntur dimakan waktu, jarak, atau bahkan goncangan isu negatif yang beredar di media sosial.
Darur Rosyad: Benteng Tauhid dari Bumi Sabelegung Batorasang
Bagi ribuan alumni yang tersebar dari pelosok desa hingga kota besar, nama Darur Rosyad bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah rumah kedua. Pondok yang terletak di Dusun Sabelegung Batorasang, Desa Tambelangan, Kabupaten Sampang, Madura, ini dipimpin oleh figur kharismatik, KH. Hasan bin KH. Rosyidi bin KH. Bahri.
Di bawah asuhan tiga generasi mudir (pengasuh) tersebut, Darur Rosyad berhasil menanamkan nilai-nilai fundamental: cinta, kasih sayang, takzim, dan khidmat santri kepada para Masyaikh. Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter alumni, sehingga meski telah "boyong" (lulus) dan merantau jauh, rasa hormat mereka tetap utuh.
Namun, belakangan ini, kepercayaan publik terhadap pesantren sedikit tergerus akibat beredarnya berita-berita tentang penyimpangan moral yang dilakukan oknum-oknum di beberapa pondok pesantren lain. Berita ini, meskipun tidak melibatkan Darur Rosyad secara langsung, menciptakan efek domino: rasa takut, ragu, dan kekhawatiran orang tua untuk menitipkan putra-putrinya ke pesantren.
Alumni Sebagai Tameng: Membela dengan Perilaku, Bukan Debat
Menanggapi situasi ini, ISADAR Kalbar mengambil langkah strategis. Mereka menyadari bahwa membela pesantren dengan kata-kata keras di media sosial justru sering kali kontraproduktif. Sebaliknya, akhlakul karimah adalah senjata paling ampuh.
“Alumni tidak harus menjelaskan dengan setiap kata dan kalimat untuk membela pondok pesantren. Cukup dengan berperilaku baik, jujur, dan bermanfaat di tengah masyarakat. Itulah cara terbaik melawan rasa takut dan keraguan publik,” ujar salah satu pengurus ISADAR Kalbar dalam pertemuan tersebut.
Hadirnya alumni-alumni Darur Rosyad yang sukses, beretika, dan aktif dalam kegiatan sosial di Kalimantan Barat menjadi bukti hidup bahwa sistem pendidikan di Darur Rosyad masih kokoh menghasilkan insan kamil. Mereka adalah "tameng moral" yang menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi tempat terbaik untuk mencetak generasi berakhlak mulia.
Jarak Bukan Penghalang: Cinta Guru yang Menembus Batas Geografis
Salah satu tantangan terbesar bagi alumni perantauan adalah kesulitan untuk sowan (mengunjungi) kembali ke guru mereka di Madura. Faktor finansial, tuntutan pekerjaan, hingga kondisi kesehatan sering menjadi kendala.
Namun, keajaiban terjadi berkat kerendahan hati dan kecintaan tulus dari para Masyaikh Darur Rosyad. Secara sukarela, para guru rela melakukan perjalanan jauh mengunjungi cabang-cabang ISADAR di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Barat, setidaknya dua tahun sekali sesuai jadwal yang ditetapkan ISADAR Pusat.
Kehadiran fisik para Masyaikh di tengah-tengah alumni di perantauan bukan sekadar kunjungan biasa. Ia adalah suntikan semangat, penguat ikatan batin, dan pengingat bahwa tali kasih antara guru dan murid tidak pernah putus, meski terpisah lautan dan daratan.
Refleksi: Muttashil, Munfasil, atau Mungkothi?
Dalam pertemuan tersebut, sebuah pertanyaan reflektif dilontarkan: "Sebagai alumni, kita termasuk kategori mana?"
1. Muttashil: Alumni yang terus tersambung secara lahir dan batin dengan guru dan pesantren, aktif menjaga silaturahmi dan mengamalkan ilmu.
2. Munfasil: Alumni yang terputus secara fisik karena jarak, namun hatinya masih tertambat pada ajaran guru.
3. Mungkothi: Alumni yang memutuskan hubungan, melupakan jasa guru, atau bahkan mencemarkan nama baik pesantren dengan perilaku buruk.
ISADAR Kalbar mengajak seluruh anggotanya untuk menjauhi sifat mungkothi dan berupaya maksimal menjadi alumni muttashil. Karena, sebagaimana doa masyhur itu berbunyi: "Laula murobbi la aroftu robbi." Jasa guru adalah pintu utama mengenal Tuhan. Merusak marwah guru sama halnya dengan menutup pintu hidayah bagi diri sendiri.
Jejak ISADAR: Dari Madura Hingga Penjuru Nusantara
ISADAR Kalbar adalah salah satu cabang dari jaringan besar ISADAR Pusat yang berbasis di Madura. Jaringan ini telah menyebar luas, mencakup ISADAR Kediri, Surabaya, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Pangkal Pinang, hingga Kalimantan Selatan. Semua cabang ini bersumber dari satu mata air: Pondok Pesantren Darur Rosyad.
Dengan adanya koordinasi yang solid antar-cabang, ISADAR tidak hanya berfungsi sebagai wadah reuni, tetapi juga sebagai gerakan sosial keagamaan yang menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah dan menjaga citra positif pesantren di mata publik.
Di era di mana informasi negatif mudah viral, kehadiran ISADAR Kalbar adalah oase. Mereka membuktikan bahwa pesantren bukan sarang masalah, melainkan benteng peradaban. Dan alumni-alumninya adalah prajurit-prajurit sunyi yang menjaga benteng itu dengan keteladanan, bukan dengan kebisingan.[]
Sumber: Pernyataan Resmi & Pertemuan Triwulan ISADAR Kalimantan Barat
Editor: Tim Redaksi Pendidikan Agama Homepublik.id
Penulis: Ferdiansyah Kabiro Kubu Raya
Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan

