Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Damai Lewat Meja Makan: PWI Cabut Laporan Polisi terhadap Hotman Paris Usai Dimediasi Sufmi Dasco
“Persatuan Indonesia bukan sekadar slogan di dinding istana, melainkan praktik nyata saat kita mampu duduk semeja, berjabat tangan, dan mengesampingkan ego demi keutuhan bangsa.”
(Mediasi Kebangsaan)
JAKARTA | 29 Juli 2026 - Polemik tajam antara advokat kondang Hotman Paris Hutapea dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) resmi berakhir damai. Setelah sebelumnya melaporkan Hotman ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghinaan terhadap wartawan, PWI mengumumkan pencabutan laporan tersebut pada Selasa (28/7/2026) siang.
Keputusan bersejarah ini diambil setelah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, berhasil mempertemukan kedua belah pihak dalam sebuah pertemuan makan siang yang berlangsung hangat dan penuh silaturahmi.
Dari Ujaran Kasar hingga Jalur Hukum
Konflik bermula dari konferensi pers di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung pada Jumat (17/7/2026). Saat itu, Hotman hadir sebagai kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, yang menjadi tersangka kasus korupsi PT Asabri. Emosi Hotman memuncak saat seorang wartawan mengajukan pertanyaan yang dianggapnya repetitif.
"Lu punya otak enggak sih?" cetus Hotman kala itu. Ucapan tersebut viral dan memicu protes keras dari kalangan jurnalis. Meski Hotman telah menyampaikan permintaan maaf melalui Instagram, PWI tetap menempuh jalur hukum dengan melaporkannya pada Senin (20/7/2026) dengan nomor laporan LP/B/5291/VII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, menjeratnya dengan Pasal 242 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang penghinaan terhadap golongan penduduk.
Peran Dasco: Menjaga Persatuan di Atas Ego
Segalanya berubah ketika Sufmi Dasco turun tangan. Menurut Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, pertemuan tersebut adalah inisiatif Dasco yang ingin mencegah perpecahan lebih jauh. "Pak Dasco mempertemukan saya dengan Pak Hotman, pertimbangannya untuk persatuan Indonesia," kata Munir kepada wartawan.
Dalam foto yang diunggah Dasco di media sosial, terlihat Hotman dan Munir berjabat tangan erat di meja makan, sementara Dasco duduk di tengah dengan senyum lega. "Persatuan Indonesia. Silaturahmi bersama Ketua Umum PWI hari ini," tulis Dasco.
Munir menegaskan bahwa pencabutan laporan akan segera diproses. "Dicabut, nanti dicabut. Mungkin hari ini, paling lambat besok," pungkasnya.
Catatan Penting: Laporan MIO Masih Berjalan
Meskipun konflik dengan PWI telah selesai, Hotman Paris masih menghadapi satu tantangan hukum lain. Organisasi Media Independen Online (MIO) Indonesia juga telah melaporkan Hotman ke Polda Metro Jaya secara terpisah. Penanganan laporan ini berada di bawah Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) dan tidak ikut dicabut oleh PWI. Proses penyelidikan terhadap laporan MIO masih terus berjalan.
Selain itu, perlu dicatat bahwa Hotman Paris telah lebih dulu mundur sebagai kuasa hukum Febrie Adriansyah pada 23 Juli 2026, hanya enam hari setelah menerima surat kuasa, akibat kondisi kesehatannya yang memburuk pasca operasi saraf kejepit di Singapura.
Kekuatan Diplomasi Personal
Kasus Hotman vs PWI mengajarkan bahwa di balik ketegangan hukum, seringkali ada ruang untuk dialog manusiawi. Intervensi tokoh seperti Sufmi Dasco menunjukkan bahwa politik dan hukum tidak harus selalu kaku; terkadang, sebuah jabat tangan dan makan siang bersama bisa menjadi solusi terbaik untuk meredam api permusuhan.
Kepada Hotman Paris dan PWI: jadikan momen ini sebagai pelajaran berharga tentang pentingnya saling menghargai profesi. Kepada Publik: dukunglah kebebasan pers dan hak membela klien, namun tetap dalam koridor etika dan sopan santun. Karena sejatinya, negara yang kuat dibangun oleh warga yang mampu berdamai dengan perbedaan.[]
Sumber: Laporan Polda Metro Jaya, & Analisis Resolusi Konflik
Editor: Tim Redaksi Hukum & Politik Homepublik.id
Penulis: Wawa
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

