Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Haji Her Bangun 1.000 Rumah Tanpa Syarat, "Semua Milik Allah, Bukan Kepunyaan Saya"
“Kebaikan itu seperti tangan kanan yang memberi, usahakan tangan kiri tidak mengetahuinya, apalagi orang lain. Kami hanya ingin memastikan dana yang disumbangkan adalah uang halal untuk mereka yang paling membutuhkan.”
(H. Khairul Umam (Haji Her), Pengusaha & Filantropis Madura)
PAMEKASAN | 30 Juli 2026 - Di tengah gemerlap gelar "Crazy Rich Madura" atau "Sultan Madura", sosok Haji Khairul Umam, atau yang lebih akrab disapa Haji Her, memilih jalan sunyi yang berbeda. Bukan untuk pamer kekayaan, melainkan untuk menebar manfaat. Pria sukses di bisnis tembakau ini menjadi sorotan nasional setelah berhasil membangun lebih dari 1.000 unit rumah layak huni bagi warga miskin di Kabupaten Pamekasan, Madura, tanpa syarat apapun.
Filantropi Tanpa Pamrih: 1.000 Rumah, 1.000 Senyuman
Proyek kemanusiaan Haji Her tidak mengenal batas kecamatan. Ia menjangkau warga miskin di seluruh penjuru Pamekasan yang masih tinggal di tempat tidak layak huni. Bagi Haji Her, bantuan ini bukan sekadar charity, melainkan kewajiban moral untuk mengembalikan hak-hak kaum dhuafa.
"Yang penting, dana yang kami sumbangkan kepada warga miskin adalah uang halal," tegasnya dengan logat Madura tulen yang khas. Ia menekankan bahwa setiap bata yang tersusun berasal dari hasil kerja keras yang berkah, bukan dari praktik yang meragukan.
Tak hanya berupa atap dan dinding, Haji Her juga secara rutin menyantuni ribuan anak yatim dan membantu kaum fakir miskin lainnya. Namun, ironisnya (atau mungkin justru kesengajaannya), semua kebaikan ini jarang terekspos media massa.
Low Profile: Ketika Kekayaan Tidak Perlu Dipamerkan
Sosok Haji Her memang unik. Sebagai pengusaha besar dengan jaringan bisnis yang luas—mulai dari Madura, Surabaya, Jakarta, hingga daerah lainnya—ia tetap menjaga sikap rendah hati (low profile). Ia bahkan enggan menyebutkan detail omset harian atau bulanan perusahaannya. Baginya, harta hanyalah titipan yang harus terus mengalir kepada mereka yang membutuhkan.
Ketika awak media mencoba menggali lebih dalam tentang aset-asetnya yang tersebar di berbagai kota, Haji Her hanya menjawab dengan senyuman tipis yang penuh makna:
"Semua milik Allah, bukan kepunyaan saya."
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat keras bagi siapa pun yang mendengarnya. Di era di mana banyak orang berlomba-lomba memamerkan kemewahan di media sosial, Haji Her memilih untuk menyembunyikan kebaikannya. Menurutnya, esensi sedekah adalah ketulusan hati, bukan pujian manusia.
Teladan dari Tanah Madura
Kisah Haji Her adalah bukti nyata bahwa kekayaan sejati bukanlah tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi berapa banyak yang kita bagikan. Di balik label "Sultan", terdapat hati seorang hamba yang sadar bahwa ia hanyalah pengelola amanah Tuhan.
Semoga langkah-langkah kecil namun berdampak besar dari Haji Her dapat menginspirasi para pengusaha lain di Indonesia untuk tidak hanya mengejar profit, tetapi juga peduli pada distribusi kesejahteraan. Karena sejatinya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari tinggi gedung pencakar langit miliknya, tetapi dari seberapa banyak air mata kering yang ia hapus dari wajah sesama. 🏠❤️🇮🇩
Sumber: Wawancara Eksklusif Tim Homepublik.id dengan H. Khairul Umam, Dokumentasi Pembangunan Rumah di Pamekasan, Kesaksian Warga Penerima Manfaat, & Analisis Sosial Filantropi Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Inspirasi Homepublik.id
Penulis: Lora Badruttamam
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

