Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Khazanah Intelektual NU untuk Bangsa
“Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan peta jalan spiritual dan sosial bagi warga Nahdliyyin dalam menghadapi tantangan zaman. Pemikiran beliau adalah warisan yang harus kita hayati, bukan hanya kita baca.”
(KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Ketua Umum PBNU)
JAKARTA | 7 Agustus 2026 - Malam keakraban dan refleksi intelektual mewarnai Hotel Grand Sahid Jakarta pada Selasa malam (5/8/2026). Dalam acara peluncuran buku bertajuk “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH. Ma’ruf Amin”, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), hadir memberikan dukungan penuh terhadap karya monumental Rais 'Aam Syuriah PBNU tersebut.
Acara ini menjadi momen penting bagi keluarga besar NU untuk merenungkan kembali fondasi pemikiran (fikrah), metode keberagamaan (manhaj), dan gerak perjuangan (harakah) yang telah dirumuskan oleh para pendahulu, khususnya melalui kacamata KH Ma'ruf Amin.
Kehadiran Para Ulama Kharismatik & Tokoh Negara
Perhelatan akbar ini dihadiri oleh deretan tokoh nasional dan ulama kharismatik dari berbagai penjuru Nusantara, menegaskan bahwa pemikiran KH Ma'ruf Amin memiliki resonansi yang melampaui batas organisasi. Turut hadir antara lain:
* Abuya Muhtadi, ulama kharismatik asal Banten.
* KH Ali Akbar Marbun, ulama kharismatik asal Sumatera Utara.
* Prof. Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI.
* Serta sejumlah pengurus PBNU dan tokoh masyarakat sipil lainnya.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa buku ini bukan hanya milik internal NU, tetapi merupakan kontribusi berharga bagi diskursus keislaman dan kebangsaan di Indonesia.
Simbolisasi Warisan Ilmu: Pemberian Cinderamata Langsung
Puncak acara ditandai dengan penyerahan cinderamata berupa buku tersebut secara langsung oleh KH Ma'ruf Amin kepada Gus Yahya dan para tokoh yang hadir. Momen ini sarat makna simbolis: sebuah estafet pengetahuan dan amanah kepemimpinan yang diteruskan dari generasi tua kepada penerus perjuangan.
Bagi Gus Yahya, kehadiran buku ini menjadi pengingat bahwa gerakan NU harus senantiasa berpijak pada tradisi keilmuan yang kokoh, sekaligus adaptif terhadap dinamika kontemporer tanpa kehilangan jati diri ahlussunnah wal jamaah.
Membaca untuk Memahami, Bertindak untuk Mengabdi
Peluncuran buku “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah” adalah oase di tengah gempuran informasi yang seringkali dangkal. Ini mengajak kita semua khususnya warga NUuntuk kembali ke sumber-sumber autentik pemikiran organisasi, memahami konteks historisnya, dan menerjemahkannya dalam amal nyata bagi umat dan bangsa.
Kepada Generasi Muda NU: bacalah dengan kritis dan kontekstual. Kepada Para Ulama: teruslah membimbing agar khazanah ini tidak punah dimakan zaman. Karena sejatinya, kekuatan terbesar NU bukanlah pada jumlah anggotanya, tetapi pada kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak yang menjadi napas setiap gerakannya.[]
Sumber: Laporan Acara Peluncuran Buku di Hotel Grand Sahid, Pernyataan Gus Yahya, Arsip Berita Republika & NU Online, Profil Karya KH Ma'ruf Amin, & Analisis Khazanah Keislaman Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Keagamaan & Budaya Homepublik.id
Penulis: Khoiri Hamka
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

