Pekerja Harian Borneo Trans Keluhkan Jadwal Istirahat "Tidak Manusiawi", Minta Evaluasi Manajemen
“Istirahat bukan sekadar jeda waktu, melainkan momen pemulihan tenaga agar produktivitas tetap terjaga hingga akhir shift. Ketika jeda itu datang terlalu awal, tubuh akan kembali lelah di jam-jam krusial.”
(Salah Satu Pekerja Harian Lepas (DW) Borneo Trans)
PONTIANAK | 4 Agustus 2026 - Sejumlah pekerja harian lepas (Daily Worker/DW) yang beroperasi di area gudang PT Borneo Trans, Pontianak, menyuarakan ketidaknyamanan mereka terkait perubahan kebijakan pengaturan waktu istirahat. Para pekerja menilai bahwa jadwal istirahat baru yang diterapkan kurang efektif dan tidak sesuai dengan ritme kerja fisik yang berat.
Berdasarkan pengaduan yang diterima, untuk shift sore yang dimulai pukul 14.00 WIB, waktu istirahat kini digeser menjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Perubahan ini dinilai kontra-intuitif karena membuat para pekerja harus kembali beraktivitas fisik intensif dalam durasi yang sangat panjang tanpa jeda pemulihan di tengah malam.
Dari Pukul 20.00 ke 16.00: Dampak pada Stamina Kerja
Salah satu pekerja yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa sebelumnya, waktu istirahat biasanya diberikan pada pukul 20.00–21.00 WIB. Jadwal lama tersebut dianggap lebih logis karena membantu memulihkan tenaga menjelang jam-jam terakhir shift yang biasanya paling melelahkan.
"Sekarang istirahat terlalu cepat. Bayangkan, kami istirahat jam 6 sore, lalu bekerja terus sampai malam atau dini hari. Saat jam 10 atau 11 malam, tubuh sudah benar-benar drop karena tidak ada jeda kedua. Ini berpotensi menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja," keluhnya.
Para pekerja khawatir bahwa kelelahan akumulatif ini dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang serta keselamatan operasional di area gudang yang padat dengan barang logistik.
Desakan Transparansi: Mana Hak Jawab Perusahaan?
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Borneo Trans belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan perubahan kebijakan tersebut. Apakah ini bagian dari upaya efisiensi operasional, ataukah ada kesalahan komunikasi internal?
Para pekerja berharap adanya dialog terbuka antara serikat pekerja atau perwakilan DW dengan pihak manajemen untuk mengevaluasi kembali pengaturan jadwal istirahat agar lebih manusiawi dan produktif.
Homepublik.id secara resmi membuka ruang hak jawab kepada pihak PT Borneo Trans untuk memberikan klarifikasi atau penjelasan atas keluhan yang disampaikan oleh para pekerja harian lepas ini.
Produktivitas Berawal dari Kesejahteraan
Dalam industri logistik yang mengandalkan kecepatan dan ketepatan, kondisi fisik pekerja adalah aset utama. Mengabaikan kebutuhan biologis manusia demi target operasional adalah langkah singkat yang bisa berujung pada kerugian besar akibat human error.
Kepada Manajemen Borneo Trans: dengarkan suara lapangan. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Karena sejatinya, gudang yang efisien bukanlah yang memeras keringat pekerjanya, tetapi yang mampu menjaga stamina timnya tetap prima hingga tugas selesai.[]
Sumber: Pengaduan Langsung Pekerja Harian Lepas (DW) Borneo Trans, Pantauan Lapangan Tim Homepublik.id di Area Gudang Pontianak, Arsip Data Ketenagakerjaan Kalbar, & Analisis Keselamatan Kerja Industri Logistik Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Selamet Riadi, S.Pd Redaksi Lokal Pontianak
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

