Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Gus Yahya & Jajaran PBNU Rumuskan 'Piagam Nilai Keulamaan' di Pasuruan
“Piagam Nilai-Nilai Keulamaan bukan sekadar dokumen seremonial. Ia adalah konstitusi moral yang akan menjadi kompas bagi NU agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus perubahan zaman yang semakin deras.”
(KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Ketua Umum PBNU)
PASURUAN | 9 Agustus 2026 - Menjelang perhelatan akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar langkah strategis. Pada Sabtu (8/8/2026), bertempat di Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, PBNU menyelenggarakan Halaqoh Pra-Muktamar yang secara khusus difokuskan untuk membahas dan merumuskan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran elit PBNU dari kedua sayap organisasi, mencerminkan keseriusan dalam mempersiapkan landasan ideologis sebelum sidang tertinggi umat. Dari unsur Syuriyah, hadir Katib 'Aam KH Ahmad Said Asrori, Rais Syuriyah KH Muhammad Idris Hamid dan KH Haris Shodaqoh, serta Katib Syuriyah KH Abu Yazid Bustomi. Sementara dari unsur Tanfidziyah, dipimpin langsung oleh Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), didampingi Wakil Ketua Umum KH Amin Said Husni dan Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil). Kehadiran utusan PWNU dan PCNU se-Jawa Timur juga menegaskan bahwa rumusan ini melibatkan representasi akar rumput.
Mengapa Piagam Nilai Keulamaan Krusial?
Dalam halaqoh tersebut, Gus Yahya menekankan pentingnya piagam ini sebagai bentuk "konstitusi organisasi" yang mengatur norma-norma dasar mengenai keulamaan. Di tengah dinamika politik dan sosial yang kompleks, keberadaan standar nilai yang jelas dianggap vital untuk menjaga marwah ulama dan mencegah degradasi peran keagamaan menjadi sekadar alat legitimasi kekuasaan atau kepentingan pragmatis.
Piagam ini nantinya diharapkan memuat parameter keteladanan, integritas ilmu, kemandirian sikap, dan keberpihakan pada umat yang harus dimiliki oleh setiap figur yang mengklaim sebagai bagian dari tradisi keulamaan NU. Sebagaimana disampaikan dalam berbagai sumber terkait, gagasan ini lahir dari keprihatinan agar NU tidak kehilangan jati dirinya di era modernitas.
Supremasi Keulamaan vs Pelembagaan AHWA
Rumusan Piagam Nilai Keulamaan juga beririsan dengan wacana pelembagaan Ahli Hikmah Wal Aqdi (AHWA) yang belakangan menguat jelang Muktamar ke-35. Usulan untuk melembagakan AHWA sebagai representasi keulamaan dalam struktur organisasi bertujuan mewujudkan supremasi ulama yang lebih terstruktur. Piagam nilai ini akan menjadi filter kualitatif bagi siapa saja yang layak menduduki posisi strategis dalam ekosistem keulamaan NU, memastikan bahwa otoritas agama tetap berada di tangan mereka yang memenuhi standar moral dan intelektual tertinggi.
Fondasi Moral Sebelum Sidang Akbar
Halaqoh di Pasuruan ini adalah sinyal bahwa Muktamar ke-35 tidak hanya akan berbicara soal pergantian pengurus atau kebijakan program kerja, tetapi juga refleksi fundamental tentang "siapa kita" dan "ke mana kita melangkah".
Kepada Para Peserta Halaqoh: rumuskanlah piagam ini dengan kejujuran intelektual dan ketulusan spiritual. Jangan biarkan ia menjadi teks mati yang hanya dibaca saat upacara. Kepada Warga NU: pantaulah proses ini. Karena sejatinya, kekuatan terbesar NU bukanlah pada jumlah anggotanya yang jutaan, melainkan pada kualitas keulamaannya yang terjaga kemurnian dan keteladanannya.🇮🇩
Sumber: Laporan Halaqoh Pra-Muktamar Pasuru yuan, Pernyataan Gus Yahya & Jajaran PBNU, Dokumen Konsep Piagam Nilai Keulamaan, Analisis Konstitusi Organisasi NU Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Keagamaan & Institusi NU Homepublik.id
Penulis: Redaksi Lokal Pasuruan
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

