• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Sungai Kapuas Makin Dangkal: Krisantus Desak Pengerukan Segera, Ancaman Kelangkaan BBM & Oksigen RS Mengintai Kalbar.

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-08-09T11:10:07Z

     

           Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 


    Sungai Kapuas Makin Dangkal: Krisantus Desak Pengerukan Segera, Ancaman Kelangkaan BBM & Oksigen RS Mengintai Kalbar


    “Ini bukan lagi soal teknis pelayaran semata, melainkan hajat hidup orang banyak. Ketika alur sungai mati, nadi perekonomian dan layanan kesehatan di Kalimantan Barat ikut terhenti.”  

    (Krisantus Kurniawan, Wakil Gubernur Kalimantan Barat)


    PONTIANAK | 9 Agustus 2026 - Kalimantan Barat kini berada di ambang krisis logistik yang nyata. Pendangkalan parah di Sungai Kapuas tidak hanya membuat kapal kandas berulang kali, tetapi juga mulai mengancam pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan oksigen medis ke rumah sakit. Kondisi darurat ini memaksa Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, mengambil sikap tegas dengan mendesak percepatan pengerukan alur pelayaran Pelabuhan Pontianak.


    Desakan tersebut disampaikan secara resmi saat memimpin Rapat Koordinasi Rencana Pengerukan Alur Pelayaran di Aula Dinas Perhubungan Provinsi Kalbar. Krisantus menegaskan bahwa sedimentasi sungai kini telah bertransformasi dari masalah navigasi menjadi ancaman ketahanan pangan, energi, dan kesehatan masyarakat.


    Data Mengerikan: 102 Kapal Kandas dalam Setahun


    Fakta di lapangan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data yang dipaparkan dalam rapat mencatat lonjakan insiden kapal kandas secara signifikan:

    * 2024: 87 kasus kapal kandas.

    * 2025: Melonjak menjadi 102 kasus.

    * Januari–Juli 2026: Sudah terjadi 56 kejadian baru.


    Di sejumlah titik kritis, kedalaman alur menyusut hingga minus 3,2 meter Low Water Spring (LWS). Akibatnya, operasional pelayaran praktis lumpuh dan hanya bisa dilakukan saat air pasang, yakni sekitar enam jam per hari. Keterbatasan waktu ini menciptakan bottleneck distribusi yang berdampak domino pada ketersediaan barang di daratan.


    BBM & Oksigen: Dua Nyawa yang Terancam


    Dampak paling terasa dirasakan masyarakat pada Juli lalu ketika pasokan BBM sempat tersendat. Kapal tanker kesulitan bersandar di Depo Siantan karena debit air rendah, memicu antrean panjang di SPBU dan kepanikan warga. Meskipun kini pasokan telah normal, risiko kelangkaan tetap membayangi setiap musim kemarau.


    Lebih fatal lagi, distribusi oksigen medis untuk rumah sakit juga bergantung pada jalur sungai ini. Jika kapal pengangkut oksigen tertahan di muara atau harus menunggu pasang surut, nyawa pasien yang bergantung pada alat bantu napas terancam. Ini mengubah isu pengerukan sungai dari sekadar "proyek infrastruktur" menjadi "urusan keselamatan jiwa".


    Terbelenggu Birokrasi: Pelindo Siap, Penugasan Pusat Belum Ada


    Ironisnya, solusi teknis sebenarnya sudah tersedia namun terbentur administrasi. Pemprov Kalbar menargetkan pemulihan kedalaman alur hingga minus 5 meter LWS agar kapal bisa beroperasi 24 jam dua arah. Skema pembiayaan pun disiapkan melalui kemitraan strategis di luar APBN/APBD.


    Namun, upaya ini mandek karena belum adanya penugasan resmi dari Kementerian Perhubungan. Perwakilan PT Pelindo, Mustafa, menegaskan kesiapan eksekusi: "Pelindo siap melaksanakan pengerukan apabila ada penugasan resmi dari Kemenhub. Tanpa dasar hukum tersebut, kami tidak berwenang." Senada dengan itu, PT PAS menyatakan mampu mendatangkan kapal keruk dalam 2-3 bulan pasca-perizinan rampung. Semua mata kini tertuju pada Jakarta.


    DPR RI & Pelaku Usaha: Jangan Tunggu Ekonomi Lumpuh


    Anggota Komisi V DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie, turut menyuarakan urgensi ini. Ia mengingatkan bahwa pendangkalan Kapuas bukan hanya menghambat bongkar muat, tetapi juga berpotensi memperparah banjir di wilayah hulu karena aliran air ke laut melambat saat curah hujan tinggi.


    Kalangan pengusaha angkutan laut juga mendukung penuh. Ali Akbar, pelaku jasa kapal, menekankan bahwa alur yang lancar adalah kunci stabilitas harga dan pasokan. 

    "Setuju dikeruk supaya keluar masuk barang lancar. Memang sudah seharusnya demi distribusi barang di Kalbar," ujarnya.


    Logistik Adalah Darah Kehidupan


    Kepada Pemerintah Pusat: segera berikan mandat pengerukan. Birokrasi tidak boleh lebih lambat daripada laju sedimentasi sungai. Kepada Pemprov Kalbar: terus kawal proses perizinan dan siapkan mitigasi darurat jika pengerukan masih tertunda.


    Karena sejatinya, sungai bagi Kalimantan Barat bukan sekadar jalur transportasi, melainkan arteri kehidupan. Membiarkannya dangkal sama dengan membiarkan denyut nadi daerah ini melemah, satu kapal kandas demi satu kapal kandas.[]


    Sumber: Rapat Koordinasi Dishub Kalbar (5/8/2026), Pernyataan Wagub Krisantus Kurniawan, Data Insiden Kapal Kandas 2024-2026, Klarifikasi PT Pelindo & PT PAS, & Analisis Ketahanan Logistik Homepublik.id

    Editor: Tim Redaksi Infrastruktur & Krisis Publik Homepublik.id

    Penulis: Khoirun Nisa, Redaksi Lokal Pontianak

    Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan



    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler

    NamaLabel

    +