Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Warga Putussibau Terpaksa Beli Eceran Rp25 Ribu/Liter, Antrean di SPBU Mengular Panjang
“Di tanah yang kaya akan sumber daya alam, rakyatnya justru harus berteriak karena sulitnya mendapatkan bahan bakar dasar. Kelangkaan bukan hanya soal logistik, tapi juga soal keadilan.”
(Redaksi Homepublik.id)
PUTUSSIBAU | 19 Agustus 2026 - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, terasa kurang meriah bagi sebagian warga. Alih-alih menikmati suasana libur nasional, ratusan masyarakat di Putussibau terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Parahnya, bagi mereka yang tidak sabar atau terdesak kebutuhan, pilihan satu-satunya adalah membeli BBM dari pengecer liar dengan harga mencekik: Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh warga kepada awak media pada Selasa (18/8/2026).
"Udah hampir dua minggu ini SPBU di Putussibau antreannya panjang. Harga di pengecer pun tinggi, capai Rp20 ribu bahkan ada yang jual Rp25 ribu per liter. Udak ndak ada lagi pengecer yang jual di bawah Rp20 ribu," ungkap seorang warga dengan nada frustrasi.
Stok Ada, Tapi Sulit Didapat: Indikasi Penimbunan?
Menurut pengamatan di lapangan, stok BBM di SPBU sebenarnya selalu tersedia setiap hari. Namun, volume pengisian per kendaraan sering kali dibatasi atau prosesnya sangat lambat, menyebabkan antrean mengular hingga keluar gerbang SPBU. Kondisi ini memicu spekulasi kuat di tengah masyarakat mengenai adanya praktik penimbunan BBM subsidi oleh oknum tertentu untuk dijual kembali di pasar gelap dengan margin keuntungan yang fantastis.
"Kami khawatir ada yang menimbun bensin nih bang. Kami jadi susah untuk kebagian bensin dengan harga normal," tambah warga lainnya.
Lonjakan harga eceran ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Dengan harga Pertalite resmi sekitar Rp10.000-an, markup hingga 150% di tingkat pengecer menjadi beban berat bagi masyarakat perbatasan yang mayoritas bergantung pada transportasi darat dan sungai.
Tantangan Logistik di Wilayah Luas
Kapuas Hulu merupakan kabupaten terluas di Kalimantan Barat dengan medan geografis yang kompleks. Ketergantungan pada jalur sungai Kapuas yang sedang mengalami pasang-surut akibat faktor cuaca juga kerap memperparah gangguan distribusi. Namun, warga menilai bahwa masalah utama saat ini lebih pada pengawasan distribusi yang lemah, memungkinkan bocornya BBM subsidi ke tangan spekulan.
Keadilan Energi untuk Daerah Terluar
Kepada Pertamina & Pemerintah Daerah: segera turunkan tim satgas untuk memantau aliran BBM dari depot hingga ke SPBU. Tindak tegas para penimbun yang memainkan harga di saat rakyat kesulitan. Kepada Warga: tetap bersabar dan laporkan jika menemukan indikasi penimbunan massal.
Karena sejatinya, kemerdekaan ekonomi berarti setiap warga negara, di mana pun mereka berada, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang wajar. Jangan biarkan Putussibau merasa tertinggal di hari kemerdekaan ini. ⛽🇮🇩
Sumber: Laporan Langsung Warga Putussibau (18/8/2026), & Analisis Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Wawa
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

