Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Kepala Puskesmas Janjikan Perbaikan Mekanisme BLUD
“Yang kami harapkan sederhana: masyarakat yang datang berobat mendapatkan pelayanan yang baik dan kebutuhan obat tersedia semaksimal mungkin. Jika ada kendala, berikanlah penjelasan dan solusi yang jelas, bukan sekadar penolakan.”
(Kholiq, Warga Kecamatan Sungai Ambawang)
KUBU RAYA | 10 Agustus 2026 - Akses terhadap layanan kesehatan dasar kembali menjadi sorotan di Kabupaten Kubu Raya. Kholiq, seorang warga Kecamatan Sungai Ambawang, secara proaktif menemui Kepala Puskesmas Sungai Ambawang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat terkait keterbatasan ketersediaan sejumlah obat esensial dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). Pertemuan ini menjadi bukti nyata bahwa partisipasi warga adalah kunci perbaikan sistem kesehatan daerah.
Keluhan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pasien mengeluhkan kesulitan mendapatkan obat standar di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tersebut. Kondisi ini berpotensi menghambat proses penyembuhan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan pemerintah.
Respons Puskesmas: Kendala Stok Pusat & Solusi Melalui BLUD
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Puskesmas Sungai Ambawang memberikan penjelasan transparan mengenai mekanisme pengadaan obat. Ia menegaskan bahwa Puskesmas tidak memiliki wewenang penuh untuk mengadakan semua jenis obat secara mandiri, melainkan bergantung pada alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya.
"Kami memahami betapa krusialnya ketersediaan obat. Kami terus berupaya memenuhi kebutuhan sesuai standar FKTP melalui pengusulan ke Dinas Kesehatan," ujar Kepala Puskesmas.
Namun, ia juga mengungkapkan adanya jalur alternatif ketika stok di tingkat kabupaten kosong. Puskesmas dapat melakukan pengadaan atau pembelian obat menggunakan anggaran Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Puskesmas, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Langkah ini diambil untuk memastikan kekosongan obat tidak berlangsung lama dan pelayanan tetap berjalan.
Pihak Puskesmas juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat dan berkomitmen untuk memperbaiki proses perencanaan serta penganggaran agar lebih antisipatif terhadap fluktuasi kebutuhan obat.
Dialog Konstruktif: Apresiasi Warga Atas Keterbukaan
Sikap terbuka pihak Puskesmas disambut positif oleh Kholiq. Ia mengapresiasi adanya ruang komunikasi yang memungkinkan masalah didengar dan dicarikan solusinya bersama. Bagi Kholiq, inti dari pelayanan kesehatan bukan hanya pada keberadaan gedung atau tenaga medis, tetapi pada kepastian ketersediaan logistik yang mendukung kesembuhan pasien.
"Kami apresiasi penjelasannya. Yang penting adalah kejelasan. Kalau ada obat yang kosong, beri tahu alasannya dan kapan akan tersedia. Jangan biarkan masyarakat bingung," tambah Kholiq. Ia berharap sinergi antara warga, Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan Pemkab Kubu Raya dapat terus dibangun untuk mencegah terulangnya kasus serupa.
Kesehatan Adalah Hak, Bukan Privilese
Kepada Dinas Kesehatan Kubu Raya: pastikan distribusi obat ke puskesmas-puskesmas terpencil seperti Sungai Ambawang menjadi prioritas utama dalam perencanaan anggaran. Jangan biarkan birokrasi menghambat akses warga terhadap obat murah dan gratis. Kepada Puskesmas: teruslah buka pintu dialog. Transparansi adalah obat terbaik untuk menyembuhkan rasa curiga masyarakat.
Karena sejatinya, tidak ada kemiskinan yang lebih menyakitkan daripada ketiadaan akses terhadap obat saat tubuh sedang sakit. Setiap keluhan warga adalah alarm peringatan bagi sistem kesehatan kita untuk terus berbenah.🇮🇩
Sumber: Pertemuan Langsung Kholiq & Kepala Puskesmas Sungai Ambawang, Pernyataan Resmi Pengelola Puskesmas, Dokumen Prosedur Pengadaan Obat BLUD, & Analisis Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Kesehatan & Sosial Homepublik.id
Penulis: Khoiri Hamka, Redaksi Kalbar
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

