Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
YOGYAKARTA, 15 Mei 2026 – Di tengah gempuran era digitalisasi yang serba cepat dan instan, sebuah kisah haru datang dari Kampus Biru, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Prof. Dr. Ir. Fathul Wahid, M.Sc., Rektor UII periode 2018–2026, memilih jalan yang berbeda. Ia menolak menggunakan tanda tangan digital (digital signature) untuk ijazah dan transkrip nilai mahasiswa. Sebaliknya, ia tetap setia pada "tanda tangan basah" menggunakan pena, satu per satu, selama delapan tahun masa jabatannya.
Keputusan ini bukan karena keterbatasan teknologi atau ketertinggalan zaman. Melainkan, sebuah pilihan sadar yang sarat makna spiritual. Bagi Prof. Fathul, setiap goresan tinta di atas kertas ijazah adalah momen suci untuk menyelipkan doa bagi masa depan para lulusannya.
Lebih dari Sekadar Administrasi: Ibadah dan Doa
Selama menjabat, Prof. Fathul tercatat telah menandatangani lebih dari 200.000 lembar dokumen kelulusan. Bayangkan, jika rata-rata satu tanda tangan membutuhkan waktu 10-15 detik termasuk jeda untuk berdoa, maka ribuan jam telah ia habiskan hanya untuk mendoakan mahasiswanya.
"Saya menganggap proses menandatangani ijazah sebagai kesempatan untuk 'mewiridkan doa'. Saya berharap setiap alumni UII diberikan kemudahan, keberkahan, rezeki yang halal, dan jalan hidup yang lurus," ungkap Prof. Fathul dalam berbagai kesempatan.
Bagi beliau, ijazah bukan sekadar lembaran kertas legalitas akademik, melainkan amanah. Dengan menandatangani secara manual, ia merasa ada ikatan batin (spiritual bond) antara dosen/rektor dengan mahasiswa. Setiap nama yang ditulis adalah wajah-wajah muda yang pernah ia bimbing, yang kini akan terjun ke masyarakat.
Inspirasi dari Mbah Maimun Zubair
Konsistensi Prof. Fathul dalam mendoakan murid-muridnya ternyata berakar dari nasihat ulama kharismatik, almarhum KH. Maimun Zubair (Mbah Moen). Sang Guru pernah berpesan bahwa kunci keberhasilan seorang pendidik bukan hanya pada transfer ilmu, tetapi pada keikhlasan dan doa.
"Mbah Moen mengajarkan bahwa guru harus tulus. Dan salah satu bentuk ketulusan tertinggi adalah mendoakan murid agar mereka sukses, bahkan melebihi gurunya. Nasihat itu melekat kuat di hati saya," kenang Prof. Fathul.
Filosofi ini juga tercermin dari sikap rendah hatinya. Prof. Fathul sempat meminta agar gelar akademiknya (Profesor, Doktor, dll.) tidak dicantumkan secara mencolok dalam dokumen resmi kampus atau baliho penyambutan. Baginya, di hadapan Tuhan dan dalam konteks pendidikan, semua manusia setara. Gelar hanyalah titipan dunia, sedangkan adab dan doa adalah bekal akhirat.
Akhir Masa Jabatan yang Penuh Haru
Masa jabatan Prof. Fathul Wahid sebagai Rektor UII berakhir pada 1 Juni 2026. Kabar ini menimbulkan rasa kehilangan di kalangan sivitas akademika UII. Banyak mahasiswa dan alumni yang mengungkapkan rasa terima kasih mereka melalui media sosial, menyebut Prof. Fathul sebagai sosok pemimpin yang "memimpin dengan hati".
Viralnya kisah ini di media sosial menjadi pengingat bagi publik, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi, bahwa teknologi seharusnya memudahkan manusia, bukan menghilangkan sisi kemanusiaan dan spiritualitas. Efisiensi waktu memang penting, namun ada hal-hal yang nilainya tidak bisa diukur dengan kecepatan algoritma: yaitu doa, perhatian, dan cinta seorang guru kepada muridnya.
Hikmah yang Dapat Dipetik
Kisah Prof. Fathul Wahid meninggalkan beberapa hikmah mendalam bagi masyarakat luas:
1. Teknologi Tidak Menggantikan Sentuhan Manusia: Dalam hal-hal yang bersifat emosional dan spiritual, kehadiran fisik dan perhatian personal tetap memiliki nilai yang tak tergantikan oleh mesin.
2. Kepemimpinan yang Melayani dengan Hati: Pemimpin sejati bukan hanya mereka yang membuat kebijakan strategis, tetapi mereka yang peduli pada individu-individu kecil di bawah asuhannya.
3. Kekuatan Doa Seorang Guru: Doa orang tua dan guru adalah pintu keberkahan terbesar bagi seorang anak/murid. Kesadaran ini seharusnya membangkitkan kembali adab menuntut dan mengajar ilmu di Indonesia.
4. Kesederhanaan di Tengah Popularitas: Meski bergelar Profesor dan Rektor universitas ternama, Prof. Fathul memilih untuk tetap rendah hati dan tidak menonjolkan gelar, menunjukkan bahwa kemuliaan sejati ada pada akhlak, bukan status.
Selamat bertugas, Prof. Fathul Wahid. Terima kasih telah mengajarkan bahwa di balik setiap ijazah, ada doa yang terbang menuju langit. Semoga keberkahan menyertai langkah Anda selanjutnya.[]
Sumber: Universitas Islam Indonesia (UII) & Dokumentasi Media Sosial
Editor: Tim Redaksi Panutan
Penulis: Wawa
Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan

