• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Mengharukan! Kakek 103 Tahun dari Banyuwangi Berangkat Haji Tanpa Alat Bantu, Rahasianya Shalat dan Baca Al-Qur’an Rutin.

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-05-15T00:34:24Z

     

           Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 



    SURABAYA, Jawa Timur 15 Mei 2026 – Sosok seorang kakek berusia 103 tahun berjalan santai di area Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Jawa Timur, menarik perhatian petugas dan media. Ia adalah Ropingi Rebin, jemaah haji asal Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter 73. Meski usianya telah melewati satu abad, Ropingi tampak bugar, berjalan tegak tanpa tongkat atau alat bantu apa pun, mengenakan seragam batik jemaah berwarna biru muda.


    Ropingi tiba di asrama embarkasi pada Selasa malam (12/5/2026) sekitar pukul 21.00 WIB setelah menempuh perjalanan dari Banyuwangi. Kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan usia bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan Ilahi, selama fisik dan mental tetap dijaga.


    “Doa Saya Dikabulkan Allah”


    Dengan suara yang masih lantang dan pendengaran yang tajam, Ropingi mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. Baginya, keberangkatan ke Tanah Suci tahun ini adalah jawaban atas doa yang dipanjatkan selama bertahun-tahun.


    “Perasaannya biasa saja, alhamdulillah akhirnya doa saya diijabah sama Allah, akhirnya bisa berangkat haji,” ujar Ropingi saat ditemui awak media, Rabu (13/5/2026).


    Yang membuat kisah Ropingi semakin menyentuh adalah latar belakang ekonominya. Ia tidak berangkat haji karena menabung sendiri dari harta berlimpah, melainkan sepenuhnya dibiayai oleh kedua anaknya yang berprofesi sebagai pedagang dan petani.


    “Saya haji ini enggak nabung, tapi dibiayai kedua anak saya. Mereka yang kerja keras. Anak-anak saya sempat minta supaya saya tidak usah kerja lagi, biar mereka saja yang mengurus saya. Tapi saya masih kuat,” kenangnya.


    Masih Aktif Berkebun di Usia Senja


    Fakta bahwa Ropingi masih aktif berkebun hingga usia 103 tahun menjadi sorotan utama. Di lahannya dekat rumah, ia masih sering menanam benih sendiri. Meski gerakannya tidak selincah saat muda, semangat hidupnya tetap membara. Aktivitas fisik ringan inilah yang diduga menjadi salah satu kunci kebugarannya.


    Menjelang keberangkatan, Ropingi rutin menjaga stamina dengan berjalan pagi di sekitar rumah bersama anaknya. Menariknya, ia mengaku tidak memiliki pola makan khusus atau pantangan tertentu. Bagi Ropingi, kesehatan tubuh adalah anugerah yang harus dirawat dengan aktivitas positif dan ketenangan hati.


    Rahasia Panjang Umur: Disiplin Ibadah


    Ketika ditanya tentang rahasia umur panjangnya, Ropingi tidak menyebutkan obat-obatan herbal atau diet ketat. Jawabannya sederhana namun penuh makna spiritual: disiplin ibadah.


    “Rahasia panjang umur? Saya tidak tahu pasti. Tapi saya selalu menjalankan perintah Allah. Shalat berjamaah tidak pernah putus. Baca Al-Qur’an dari Maghrib sampai Isya tidak berhenti,” ungkapnya dengan tegas.


    Konsistensi ibadahnya inilah yang menjadi fondasi kekuatan mental dan fisiknya. Bahkan, meski tidak bisa menulis karena tidak pernah mengenyam pendidikan formal, Ropingi masih mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar dan mendengarkan dengan baik.


    Satu-satunya yang Masih Hidup dari 7 Bersaudara


    Ropingi merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ironisnya, ia kini menjadi satu-satunya anggota keluarga inti yang masih hidup. Semua saudara kandungnya telah mendahuluinya.


    “Saya tujuh bersaudara. Saya ingat semua nama-nama saudara saya. Sekarang tinggal saya sendiri. Jadi, saya berdoa semoga panjang umur agar bisa datang ke Rumah Allah,” tuturnya sambil sesekali melontarkan candaan kepada wartawan, menunjukkan optimisme dan jiwa mudanya.


    Karena anak-anaknya belum mendapat giliran kuota haji (masih harus menunggu antrean sekitar lima tahun), Ropingi berangkat sendirian. Namun, ia tidak akan merasa kesepian. Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menyiapkan petugas khusus pendamping lansia (dhaman) yang akan mendampinginya selama menjalani rangkaian ibadah di Makkah dan Madinah.


    Inspirasi bagi Generasi Muda


    Kisah Ropingi Rebin menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda. Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, keteguhan hati, kesederhanaan hidup, dan kedekatan spiritual ternyata menjadi kunci kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang.


    Keberangkatan Ropingi membuktikan bahwa haji bukan milik kaum muda saja, tetapi hak setiap Muslim yang mampu, secara fisik maupun finansial. Semoga ibadah Haji Ropingi Rebin menjadi Haji Mabrur, dan kisahnya terus memotivasi umat untuk menjaga kesehatan spiritual dan jasmani.[]


    Sumber: Dokumentasi Asrama Haji Embarkasi Surabaya

    Editor: Tim Redaksi Homepublik.id

    Penulis: Redaksi Jatim

    Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler

    NamaLabel

    +