• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Menjaga Akar di Tengah Arus Zaman: Dedikasi Jamil As-Sasaky Melestarikan Bahasa Pembayun, Warisan Luhur Adat Sasak.

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-05-15T00:34:46Z

     

            Homeublik.id|Media Nasional Terdepan 



    LOMBOK TENGAH, NTB 15 Mei 2026 – Di tengah gempuran modernisasi dan dominasi bahasa populer yang kian menggerus identitas lokal, seorang pemuda bernama Jamil As-Sasaky (45) berdiri tegak sebagai penjaga gawang kebudayaan. Pria asal Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini telah mendedikasikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk mempelajari, mendalami, dan mengajarkan Bahasa Pembayun (atau Basa Alus), sebuah varian bahasa Sasak tingkat tinggi yang sarat nilai filosofis dan penghormatan.


    Bagi masyarakat Sasak, Bahasa Pembayun bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jiwa dari prosesi adat, khususnya dalam tradisi Nyongkolan (arak-arakan pengantin) pada upacara Sorong Serah Aji Krame. Bahasa ini menuntut ketelitian tata bahasa, pemilihan kata yang halus, dan intonasi yang mencerminkan rasa hormat tertinggi kepada leluhur dan tamu kehormatan. Namun, keberadaannya kini terancam punah karena minimnya generasi muda yang mau mempelajarinya secara serius.


    Perjuangan Belajar dari Lembaran Fotokopi


    Kecintaan Jamil terhadap budaya leluhur tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat. Sejak tahun 2000, saat usianya masih sangat muda, Jamil mulai tertarik mendalami seluk-beluk Bahasa Pembayun.


    Namun, jalan yang ditempuhnya tidaklah mulus. Pada masa itu, akses terhadap materi pembelajaran bahasa adat sangat terbatas. "Saya hanya bermodalkan beberapa lembar fotokopian materi yang saya dapatkan dari kerabat. Tidak ada buku teks resmi, tidak ada kelas formal. Saya harus menghafal dan memahami konteksnya sendiri," kenang Jamil.


    Keterbatasan fasilitas tersebut justru membakar semangatnya. Jamil menyadari bahwa jika ia tidak belajar, siapa lagi yang akan meneruskan estafet pengetahuan ini? Ketekunannya membawanya bertemu dengan seorang guru besar kehidupan dan budaya, yakni Amaq Ja’far, seorang tokoh budaya senior di Desa Darek yang dikenal sebagai "ensiklopedia berjalan" adat Sasak.


    Lantunan Bait Sajak Bahasa Pembayun Tradisi Adat Sasak

           Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 


    Di bawah bimbingan Amaq Ja’far, Jamil tidak hanya menghafal kosakata, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap ungkapan. Ia belajar bagaimana struktur kalimat berubah tergantung pada status sosial lawan bicara, serta bagaimana menyampaikan pesan dengan kelembutan tanpa kehilangan wibawa.


    Bahasa Sebagai Benteng Identitas


    Kini, Jamil As-Sasaky telah menjadi salah satu rujukan utama bagi mereka yang ingin menyelami kedalaman Bahasa Pembayun. Ia aktif mengisi berbagai acara adat, menjadi pembina dalam pelatihan pernikahan adat, serta memberikan edukasi kepada generasi muda di sekolah-sekolah dan komunitas budaya.


    Menurut Jamil, pelestarian bahasa adalah kunci utama menjaga identitas bangsa. "Bahasa adalah rumah bagi budaya. Jika bahasanya hilang, maka nilai-nilai luhur seperti tata krama, rasa malu (isin), dan penghormatan (sormat) juga akan ikut pudar," ujarnya tegas.


    Ia menekankan bahwa Bahasa Pembayun bukan milik masa lalu yang harus disimpan di museum, melainkan nilai hidup yang relevan hingga kini. Dalam era digital di mana komunikasi sering kali menjadi kasar dan instan, kehadiran Bahasa Pembayun menawarkan alternatif komunikasi yang elegan, reflektif, dan penuh empati.


    Harapan untuk Generasi Muda Lombok NTB


    Jamil menyadari bahwa tantangan terbesar ada pada regenerasi. Banyak pemuda Sasak yang merasa gengsi atau menganggap bahasa adat terlalu rumit dan kuno. Oleh karena itu, ia terus berupaya mengemas pembelajaran Bahasa Pembayun dengan pendekatan yang lebih menarik dan relevan bagi anak muda, tanpa mengurangi esensi sakralnya.


    "Saya berharap generasi muda tidak melihat adat sebagai beban, melainkan sebagai mahkota. Menguasai Bahasa Pembayun adalah bentuk kebanggaan tertinggi sebagai orang Sasak. Ini adalah warisan leluhur yang tak ternilai harganya," pungkas Jamil.


    Langkah Jamil As-Sasaky menjadi bukti nyata bahwa satu individu dapat membuat perbedaan besar. Di tengah hingar-bingar modernitas, suaranya yang lembut namun tegas dalam menuturkan Bahasa Pembayun menjadi pengingat bahwa akar budaya yang kuat adalah fondasi bagi pohon peradaban yang kokoh.[]


    Sumber: Wawancara Eksklusif & Dokumentasi Budaya Lombok Tengah

    Editor: Tim Redaksi Budaya Kabiro Lombok Tengah Homepublik.id

    Penulis: Abdul Mujib El Makky

    Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler

    NamaLabel

    +