Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
PONTIANAK, Kalimantan Barat 12 Mei 2026 – Polemik penilaian dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat terus bergulir. Viralnya video yang menunjukkan ketidakonsistenan penilaian dewan juri terhadap jawaban peserta memicu gelombang kritik luas di media sosial. Menanggapi hal tersebut, pihak MPR RI telah menyampaikan permintaan maaf resmi dan mengambil tindakan tegas berupa penonaktifan dewan juri serta Master of Ceremony (MC) yang bertugas saat itu.
Insiden ini bermula ketika sebuah video rekaman lomba final yang berlangsung pada Sabtu (9/5/2026) tersebar luas. Dalam video tersebut, terlihat dua peserta dari sekolah berbeda memberikan jawaban dengan substansi yang sama persis terhadap satu pertanyaan. Namun, dewan juri menilai jawaban "salah", sementara jawabanya sama dengan jawaban peserta kedua dinyatakan "benar" atau kurang tepat, sehingga mengakibatkan pengurangan nilai yang berdampak pada peringkat akhir.
📢 Respons MPR RI: Permintaan Maaf & Evaluasi Total
Menyadari dampak negatif dari insiden tersebut terhadap kepercayaan publik, Sekretariat Jenderal MPR RI segera merespons. Melalui keterangan resminya, MPR RI menyatakan permohonan maaf sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan dan kekecewaan yang dialami para peserta, sekolah, serta masyarakat Kalimantan Barat.
“MPR RI menyesalkan adanya kesalahan teknis dan human error dalam proses penilaian. Sebagai bentuk tanggung jawab, kami telah menonaktifkan dewan juri dan MC yang bertugas dalam lomba tersebut. Kami berkomitmen untuk mengevaluasi seluruh mekanisme lomba agar kejadian serupa tidak terulang,” bunyi pernyataan resmi MPR RI.
MPR RI juga menegaskan bahwa integritas dan objektivitas adalah harga mati dalam setiap kegiatan edukasi yang mereka selenggarakan, terutama yang berkaitan dengan sosialisasi Empat Pilar (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika).
🎙️ Pembelaan Disdikbud Kalbar: Kendala Teknis Audio
Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Barat memberikan penjelasan terkait konteks teknis di lapangan. Plt. Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, menyebutkan bahwa ada dugaan kendala teknis pada sistem audio selama perlombaan berlangsung.
Menurut Syarif Faisal, speaker yang mengarah ke meja dewan juri diduga mengalami gangguan atau feedback suara, sehingga jawaban dari peserta tertentu tidak terdengar dengan jelas atau terpotong. Hal ini berbeda dengan kondisi yang dialami oleh penonton di lokasi maupun pemirsa siaran langsung (live streaming) YouTube, yang mendengar suara peserta dengan lebih jernih.
“Kami menduga ada masalah teknis pada audio monitor juri. Bukan kesengajaan untuk memihak, melainkan keterbatasan pendengaran akibat gangguan teknis saat itu. Namun, kami menghargai keputusan MPR RI untuk melakukan evaluasi,” ujar Syarif Faisal saat dikonfirmasi, Senin (11/5/2026).
Meski demikian, Disdikbud Kalbar tetap membuka jalur bagi sekolah-sekolah yang merasa dirugikan untuk mengajukan permohonan peninjauan ulang (review) hasil lomba melalui prosedur resmi yang telah ditetapkan.
😡 Reaksi Publik & Dampak Sosial
Viralnya kasus ini tidak hanya menyita perhatian dunia pendidikan, tetapi juga memicu diskusi tentang standar objektivitas dalam kompetisi tingkat nasional. Netizen banyak menyayangkan sikap dewan juri yang dianggap tidak konsisten dan kurang profesional.
Salah satu orang tua peserta dari SMAN 1 Pontianak, yang videonya paling banyak beredar, mengungkapkan kekecewaannya.
“Anak saya sudah belajar keras. Saat menjawab, suaranya lantang dan jelas. Tapi tiba-tiba dinilai salah dengan alasan yang tidak masuk akal, padahal peserta lain menjawab sama dan dinilai benar. Ini sangat merugikan mental anak,” keluhnya.
🔍 Langkah Lanjutan
Hingga berita ini diturunkan, MPR RI masih melakukan investigasi internal terhadap rekaman lengkap lomba untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan atau murni kelalaian manusia (human error). Pihak MPR juga berjanji akan mengumumkan hasil evaluasi serta langkah perbaikan sistem penilaian untuk lomba-lomba berikutnya di daerah lain.
Bagi para peserta dan sekolah di Kalimantan Barat, diharapkan dapat menunggu hasil resmi dari panitia pusat sebelum mengambil tindakan lebih lanjut, sambil tetap menjaga semangat kompetisi yang sehat.
Sumber: Peserta LCC 4 Pilar
Editor: Tim Redaksi
Penulis: Wawa
Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan

