Cek Zoul & KOPPAN Mempawah Racik Strategi Pelestarian Pantun Melayu di Era Digital
“Rapi berhias si manik-manik, Susun berlipat katun sekarang. Kopi panas uapnya naik, Di situ tempat pantun dikarang.”
(Zulkarnain (Cek Zoul), Pembina KOPPAN Kabupaten Mempawah)
MEMPAWAH, KALBAR | 15 Juni 2026 - Di tengah gempuran konten digital yang serba cepat dan instan, warisan sastra lisan Melayu di Kabupaten Mempawah justru menemukan napas barunya. Upaya pelestarian ini tidak dilakukan dengan cara mengurung diri di masa lalu, melainkan dengan merangkul modernitas tanpa kehilangan jiwa tradisi. Sosok kuncinya adalah Zulkarnain, atau yang akrab disapa Cek Zoul, Pembina Kelompok Kopi Pantun (KOPPAN) Kabupaten Mempawah.
Pada Minggu pagi (15/6/2026), Cek Zoul hadir sebagai narasumber istimewa dalam program "Ander Pagi" di RRI Pro 4 Pontianak. Perbincangan yang berlangsung hangat ini bukan sekadar promosi budaya, melainkan pemaparan strategi konkret bagaimana pantun tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen-Z. Kehadirannya mendapat sambutan antusias dari pendengar setia RRI Pro 4 di berbagai daerah, membuktikan bahwa rindu akan identitas budaya masih sangat kuat di hati masyarakat Kalimantan Barat.
Lima Pilar KOPPAN: Tradisi yang Bernapas Bersama Zaman
Dalam siaran tersebut, Cek Zoul memaparkan lima pilar utama yang menjadi fondasi gerakan pelestarian pantun di bawah naungan KOPPAN. Ia menegaskan bahwa pantun bukanlah artefak museum yang statis, melainkan organisme hidup yang harus berevolusi.
"Pantun harus terus berkembang mengikuti zaman. Kita angkat tema-tema relevan seperti kesehatan, teknologi, hingga dinamika kehidupan sehari-hari, namun estetika dan identitas budaya Melayu tidak boleh hilang sedikitpun," jelas Cek Zoul.
Strategi ini menjawab tantangan terbesar pelestarian budaya saat ini: relevansi. Dengan memasukkan isu-isu kontemporer ke dalam bait-bait klasik, KOPPAN berhasil membuat pantun terasa dekat dan aplikatif, bukan sekadar hafalan sekolah yang membosankan.
Bukan Sekadar Adu Cepat, Tapi Dialog Budi Pekerti
Cek Zoul juga meluruskan persepsi keliru tentang seni berbalas pantun. Menurutnya, ini bukan kompetisi kecepatan bicara atau adu ketangkasan lidah semata. Lebih dari itu, berpantun adalah sarana dialog budaya yang menjunjung tinggi kesopanan, ketajaman berpikir, dan keluhuran budi pekerti.
Dalam hal teknik, ia menekankan pentingnya intonasi dan penghayatan. Sebuah pantun yang diucapkan dengan datar akan kehilangan rohnya. "Pantun harus terdengar indah dan mampu menyentuh hati para pendengar. Intonasi adalah nyawa, sedangkan kata-kata hanyalah tubuhnya," imbuhnya.
Untuk kemampuan improvisasi spontan, Cek Zoul membagikan resep sederhana namun fundamental: kebiasaan membaca, kepekaan terhadap lingkungan, dan latihan berkesinambungan. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi pemantun ulung; hanya dedikasi dan cinta pada bahasa ibu yang bisa mengasah intuisi berbahasa.
Kopi sebagai Medium Kreativitas dan Kebersamaan
Filosofi unik KOPPAN tercermin jelas dari namanya. Bagi Cek Zoul dan anggotanya, secangkir kopi bukan sekadar minuman pendamping, melainkan medium perekat kebersamaan yang melahirkan kreativitas. Pantun-pantun baru lahir dari obrolan santai di atas aroma kopi, menciptakan ruang aman untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan berkarya.
"Saya bersyukur dapat mewakili teman-teman KOPPAN. Ini bukan prestasi pribadi, melainkan kemenangan bersama bagi pelestarian adat dan budaya Melayu Mempawah," ujar Cek Zoul dengan rendah hati.
Kearifan Lokal Bertemu Media Modern
Kehadiran Cek Zoul di RRI Pro 4 Pontianak adalah bukti nyata keseriusan masyarakat Bumi Galaherang dalam menjaga marwah budaya. Kolaborasi antara komunitas akar rumput dengan media penyiaran nasional menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus menunggu kebijakan top-down dari pemerintah.
Inisiatif KOPPAN Mempawah layak menjadi inspirasi bagi komunitas seni dan budaya lainnya di Kalimantan Barat maupun Indonesia. Bahwa di era digital, warisan tak benda seperti pantun justru bisa menemukan panggungnya yang lebih luas—selama ada orang-orang seperti Cek Zoul yang rela menjadikan kopinya sebagai tinta, dan hatinya sebagai kertas, untuk merangkai bait-bait kebanggaan bangsa.[]
Mari kita dukung. Karena ketika pantun mati, sebagian dari jiwa Melayu ikut mati bersamanya.
Sumber: Siaran Langsung RRI Pro 4 Pontianak "Ander Pagi", Wawancara Eksklusif dengan Cek Zoul, & Dokumentasi Kegiatan KOPPAN Mempawah
Editor: Tim Redaksi Budaya Homepublik.id
Penulis: Muslim, Redaksi Lokal Mempawah
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

