• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Jejak Fortuner & Kekuasaan: Nama Besan Andika Perkasa Muncul di Balik Aksi Tolak MBG, PDIP Tegaskan "Cocokologi Dipaksakan".

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-06-18T18:06:52Z

     

            Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 


    Nama Besan Andika Perkasa Muncul di Balik Aksi Tolak MBG, PDIP Tegaskan "Cocokologi Dipaksakan"


    “Kami memandang perlu meluruskan distorsi informasi dan penyesatan opini yang dibangun melalui metode 'cocokologi' yang sangat dipaksakan. Tuduhan keterlibatan partai dalam aksi mahasiswa menolak MBG adalah upaya pengalihan isu.”  

    (Bantahan)


    JAKARTA | 19 Juni 2026 - Gelombang kontroversi menyelimuti dinamika gerakan mahasiswa nasional yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di balik retorika kritik akademis, muncul dugaan kuat adanya aktor politik praktis dan elit militer purnawirawan yang mem-backing aksi tersebut. Nama yang kini menjadi sorotan tajam adalah Letjen TNI (Purn) Muhammad Setyo Sularso, besan dari mantan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.


    Aliansi BEM Bersatu menyebut bahwa mobil Toyota Fortuner yang rutin digunakan oleh eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, tercatat atas nama Siti Nuraeni—yang tidak lain adalah adik kandung dari Letjen Purn Setyo Sularso. Temuan ini memicu spekulasi liar tentang adanya patronase terselubung antara aktivis kampus dengan figur berlatar belakang intelijen dan politik praktis.


    Siapa Letjen Purn Setyo Sularso? Profil Elit Intelijen yang Kini Jadi Sorotan


    Muhammad Setyo Sularso bukanlah nama sembarangan. Sebagai lulusan Akademi Militer 1982, ia mengemban sejumlah jabatan strategis sebelum pensiun pada 2017 dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Karier militernya mencakup:

    * Dandim 0732/Sleman (2000)

    * Paban III/Wanwil Sterad (2006)

    * Kaskostrad (2014)

    * Pangdam IX/Udayana (2015)

    * Inspektur Jenderal TNI (2016-2017)


    Posisi terakhirnya sebagai Irjen TNI yang bertanggung jawab atas pengawasan internal dan integritas prajurit—menambah bobot spekulasi publik ketika namanya dikaitkan dengan aktivitas politik di luar korps. Selain itu, koneksi kekerabatannya dengan Jenderal Andika Perkasa (melalui pernikahan putrinya, Nissa Avina Pilar, dengan putra sulung Andika, Alexander Akbar Wiratama Perkasa) menempatkan Setyo dalam lingkaran elit pertahanan yang masih memiliki pengaruh signifikan.


    Tuduhan BEM Bersatu: Mobil Fortuner sebagai Benang Merah


    Aliansi BEM Bersatu menegaskan bahwa keberadaan kendaraan mewah yang digunakan Tiyo Ardianto selama memimpin aksi protes bukan sekadar fasilitas pribadi. Mereka menduga mobil tersebut merupakan bentuk dukungan logistik atau simbol kedekatan dengan pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan politik terhadap kegagalan program MBG.


    "Ada indikasi kuat bahwa gerakan ini tidak murni aspirasi mahasiswa, melainkan digerakkan oleh aktor-aktor yang ingin mendestabilisasi pemerintahan baru melalui isu-isu sensitif seperti gizi anak," ujar perwakilan aliansi dalam pernyataannya.


    Namun, hingga saat ini, belum ada bukti konkret berupa transfer dana, dokumen perjanjian, atau rekaman komunikasi yang membuktikan adanya perintah langsung dari Setyo Sularso kepada Tiyo Ardianto. Hubungan kepemilikan mobil via adik kandung juga belum dijelaskan secara transparan oleh kedua belah pihak.


    Respons PDIP: Menolak Label "Dalang Politik"


    Sebagai partai tempat Setyo Sularso bernaung, PDI Perjuangan merespons cepat tudingan tersebut. Melalui pernyataan resmi, DPP PDIP membantah keras segala bentuk keterlibatan partai maupun kadernya dalam menggerakkan aksi penolakan MBG.


    Partai berlambang banteng moncong putih ini menyebut tuduhan BEM Bersatu sebagai "distorsi informasi" yang sengaja diciptakan untuk menciptakan narasi konspiratif. PDIP menekankan bahwa kebebasan berpendapat mahasiswa harus dihormati tanpa perlu dicari-cari "dalang tersembunyi" yang justru dapat mencederai otonomi gerakan sivitas akademika.


    Antara Aspirasi Murni dan Rekayasa Politik


    Kasus ini membuka tabir kompleksitas gerakan sosial di Indonesia. Di satu sisi, kritik terhadap program MBG mungkin lahir dari kepedulian genuin terhadap kualitas implementasi kebijakan. Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa gerakan mahasiswa kerap dijadikan alat tawar-menawar politik oleh elite yang merasa dirugikan atau ingin mempercepat pergantian rezim.


    Publik berhak bertanya: Apakah Tiyo Ardianto benar-benar independen? Ataukah ia hanyalah pion dalam permainan catur politik yang lebih besar? Dan apakah Letjen Purn Setyo Sularso—dengan segala koneksi dan pengalamannya—benar-benar netral, atau sedang memainkan peran di balik layar?


    Satu hal pasti: Transparansi adalah kunci. Jika tidak ada apa-apa, pembuktian lewat data dan klarifikasi terbuka akan membersihkan nama baik semua pihak. Namun jika ada benang merah yang tersembunyi, maka rakyat berhak mengetahui siapa yang sebenarnya sedang "memakan" anggaran negara—baik lewat proyek MBG yang bermasalah, maupun lewat oposisi yang didanai secara terselubung.


    Karena sejatinya, kemajuan bangsa tidak diukur dari seberapa keras suara demo di jalanan, tetapi dari seberapa jujur kita menghadapi fakta di balik setiap gerakan yang mengklaim mewakili rakyat.[]


    Sumber: Pernyataan Aliansi BEM Bersatu, Rilis Resmi DPP PDI Perjuangan, Data Riwayat Jabatan TNI AD, & Penelusuran Kepemilikan Kendaraan

    Editor: Tim Redaksi Homepublik.id

    Penulis: Wawa

    Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler

    NamaLabel

    +