Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Trenggono Pensiun Dini demi Jabatan Sipil: Langkah Profesional Hindari "Tugas Rangkap
“Negara tidak butuh pejabat yang memakai dua topi sekaligus. Satu tangan memegang senjata, tangan lain memegang anggaran rakyat. Itu resep bencana.”
(Pengamat Birokrasi & Pertahanan)
JAKARTA | 9 Juni 2026 - Keputusan berani ditunjukkan oleh Mayjen TNI Trenggono. Perwira tinggi bintang dua tersebut secara resmi mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas aktif keprajuritan TNI setelah dipercaya mengemban amanat baru sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah ini diambil seiring dengan proses administrasi pensiun dini yang kini tengah berjalan di Markas Besar TNI, sesuai regulasi penempatan perwira pada lembaga sipil negara.
Langkah Trenggono ini menjadi sorotan positif di tengah panasnya isu korupsi yang menyeret pimpinan terdahulu BGN, termasuk Dadan Hindayana, Sony Sanjaya, dan Lodewyk Pusung. Dengan mundur dari TNI, Trenggono menunjukkan komitmen penuh pada jabatan sipilnya dan menghindari konflik kepentingan atau tumpang tindih wewenang yang sering kali menjadi celah korupsi.
Dari Militer ke Sipil: Membawa Disiplin ke Dapur Negara
Trenggono bukanlah nama baru dalam manajemen logistik pangan. Sebelumnya, ia tercatat pernah menduduki posisi strategis sebagai Wakil Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, sebuah BUMN yang bergerak di bidang ketahanan pangan. Pengalaman manajerialnya di sektor korporasi dan militer diharapkan dapat membawa angin segar bagi eksekusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang selama ini sulit dijangkau.
"Pengalaman Trenggono di logistik militer dan manajemen BUMN pangan sangat relevan. MBG bukan sekadar bagi-bagi nasi, tapi rantai pasok raksasa yang butuh presisi, disiplin, dan akuntabilitas tinggi," ujar seorang analis kebijakan publik.
Dengan latar belakang militer, Trenggono dikenal memiliki integritas kuat dan budaya kerja yang tegas. Jika diterapkan di BGN, hal ini diharapkan dapat memangkas birokrasi berbelit dan mencegah kebocoran anggaran yang sebelumnya terjadi.
Menghindari "Tugas Rangkap": Efisiensi dan Integritas
Langkah pengunduran diri dari dinas aktif TNI dinilai sangat tepat oleh berbagai pihak, termasuk Indonesia Police Watch (IPW) dan komunitas anti-korupsi. Selama ini, praktik perwira aktif yang merangkap jabatan di lembaga sipil atau BUMN sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai loyalitas, akuntabilitas, dan potensi penyalahgunaan fasilitas negara.
"Ini langkah bagus demi efisiensi dan menghindari tugas ganda. Seorang pejabat tidak bisa melayani dua tuan sekaligus dengan optimal. Dengan pensiun dini, Trenggono fokus 100% pada BGN, dan gajinya juga jelas dari mana, sehingga lebih mudah diaudit," kata Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso.
Selain itu, pensiun dini juga menghemat keuangan negara karena Trenggono tidak lagi menerima gaji ganda (gaji TNI + tunjangan jabatan sipil). Ia akan menerima hak pensiun sesuai pangkat terakhirnya, sementara gaji pokoknya disesuaikan dengan jabatan struktural di BGN.
Ujian Berat di Tengah Bayang-Bayang Korupsi
Meski langkah Trenggono diapresiasi, tantangan di hadapannya sangat berat. BGN saat ini sedang dalam masa pemulihan kepercayaan publik pasca skandal korupsi ratusan miliar rupiah yang melibatkan pimpinan sebelumnya. Publik akan mengamati ketat apakah Trenggono mampu membersihkan sisa-sisa "mafia pangan" di internal BGN dan memastikan setiap butir beras dan lauk pauk sampai ke mulut anak-anak sekolah tanpa dipotong oknum.
Presiden Prabowo Subianto sendiri dikabarkan mendukung penuh langkah ini. "Saya butuh orang yang bersih, tegas, dan punya pengalaman lapangan. Mas Trenggono memenuhi kriteria itu. Dia sudah melepaskan seragam lorengnya, sekarang waktunya memakai seragam integritas," ujar sumber dekat Istana.
Harapan Baru bagi MBG
Kehadiran Trenggono sebagai Wakil Kepala BGN diharapkan menjadi titik balik bagi program MBG. Dengan kombinasi disiplin militer, pengalaman korporasi pangan, dan status sipil yang jelas, ia diharapkan dapat:
1. Memperketat Pengadaan: Menerapkan sistem lelang terbuka dan audit ketat terhadap supplier.
2. Optimalisasi Distribusi 3T: Menggunakan jaringan logistik yang efisien untuk menjangkau daerah terpencil.
3. Restorasi Kepercayaan: Membuktikan bahwa BGN bisa dikelola secara profesional dan bebas korupsi.
Publik kini menunggu bukti nyata. Apakah Trenggono hanya akan menjadi "pemanis" struktur organisasi, atau benar-benar menjadi "tukang bersih-bersih" yang menyelamatkan program andalan pemerintah? Satu hal pasti, langkah pensiun dininya adalah awal yang baik menuju birokrasi yang lebih bersih dan profesional.[]
Sumber: Konfirmasi Internal Mabes TNI & Pernyataan Resmi BGN
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Wawa
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

