Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Pencopotan Dadan Hindayana & Pertanyaan Besar Rakyat
“Rakyat tidak peduli siapa yang dilantik Jokowi atau dicopot Prabowo. Rakyat hanya peduli: Di mana uang mereka? Apakah nasi itu benar-benar bergizi, atau hanya bergizi bagi kantong oknum?”
(Suara Publik di Media Sosial)
JAKARTA | 8 Juni 2026 - Retorika politik kelas kakap kembali memanas. Di tengah panasnya isu ekonomi makro dan pelemahan rupiah, sebuah bom politik meledak di Istana Negara: Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Tidak berhenti di situ, dua wakil kepala BGN, Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya dan Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung, juga turut diberhentikan. Ketiganya kini telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).
Bagi publik, ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Ini adalah sinyal bahwa "program andalan" pemerintahan sebelumnya yang dilanjutkan oleh Prabowo ternyata menyimpan lubang hitam keuangan yang menganga. Pertanyaan besar pun muncul: Apakah ini murni penegakan hukum, atau bagian dari permainan posisi aman para elit?
Dari "Anak Emas" Jokowi Menjadi "Tersangka" Prabowo
Dadan Hindayana bukanlah nama sembarangan. Ia adalah sosok yang dipilih langsung oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memimpin BGN, lembaga baru yang dibentuk khusus untuk mengelola program MBG—salah satu warisan politik terbesar Jokowi.
Namun, ironi terjadi. Di masa Jokowi, Dadan dipuji sebagai birokrat efisien. Di masa Prabowo, ia justru dicopot dan dijerat pasal korupsi. Pergantian rezim membawa serta pergantian nasib.
Prabowo sendiri dalam pernyataannya mengaku "sedih dan terpaksa" mencopot Dadan. "Mereka adalah orang-orang yang saya percaya. Tapi kepercayaan itu disalahgunakan," ujar Prabowo dengan nada pilu. Namun, bagi pengamat politik, kesedihan presiden mungkin bercampur dengan kalkulasi politik: Membersihkan rumah sebelum terlalu banyak kotoran yang menempel pada citra pemerintahannya sendiri.
Modus Korupsi MBG: Ratusan Miliar Hilang di Tengah Jalan
Berdasarkan rilis Kejagung, Dadan dan rekan-rekannya diduga melakukan penyelewengan dalam pengadaan bahan makanan, logistik distribusi, hingga markup harga supplier. Nilai kerugian negara ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.
Bayangkan: Program yang bertujuan mengatasi stunting dan gizi buruk anak-anak Indonesia justru menjadi ladang basah bagi oknum pejabat. Nasi yang seharusnya masuk ke perut siswa SD dan PAUD, ternyata menyisakan "sisa-sisa" yang tebal di rekening pribadi.
Publik pun geram. Tagar #KorupsiMBG dan #DadanHindayana sempat trending di media sosial. Warganet menyindir, "Jangan-jangan, gizi gratis itu hanya gratis bagi koruptornya, tapi mahal bagi rakyat."
Pertanyaan Rakyat: Apakah Ini "Pembersihan" atau "Pengalihan"?
Di tengah euforia penangkapan, skeptisisme publik tetap tinggi. Ada dua narasi yang berkembang di masyarakat:
1. Narasi Positif: Prabowo serius memberantas korupsi, bahkan terhadap orang-orang dekat rezim sebelumnya. Ini menunjukkan independensi penegakan hukum.
2. Narasi Sinis: Pencopotan Dadan adalah cara Prabowo untuk mengambil alih kendali penuh atas program MBG. Dengan menjatuhkan "tim Jokowi", Prabowo bisa menempatkan orang-orangnya sendiri di BGN, sekaligus mengalihkan perhatian dari masalah lain seperti pelemahan rupiah atau kasus korupsi di kementerian lain.
"Dulu dilantik Jokowi, kini dicopot Prabowo. Namanya jadi sorotan. Tapi apakah rakyat dapat jaminan bahwa penggantinya nanti akan bersih? Atau ini hanya ganti pemain, bukan ganti sistem?" tanya seorang aktivis anti-korupsi.
Posisi Aman Para "Kakap": Siapa Berikutnya?
Pencopotan Dadan membuka kotak Pandora. Jika korupsi terjadi di level puncak BGN, berapa banyak lagi pejabat di kementerian terkait (seperti Kemendagri, Kemenkeu, atau BUMN pangan) yang terlibat?
Publik mendesak agar penyelidikan tidak berhenti pada Dadan, Sony, dan Lodewyk. Jejak uang harus diusut hingga ke akar-akarnya. Siapa supplier yang mendapat proyek? Siapa pejabat yang meloloskan anggaran? Dan siapa yang menutup mata?
Jika hukum hanya menyentuh "ikan kecil" atau "wakil-wakil", sementara "kakap-kakap" di belakang layar tetap berenang bebas di kolam kekuasaan, maka rasa keadilan rakyat akan terus terkikis.
Epilog: Kepercayaan yang Terbakar
Program MBG adalah simbol harapan bagi jutaan keluarga miskin di Indonesia. Ketika simbol itu ternoda korupsi, yang terbakar bukan hanya uang negara, tetapi juga kepercayaan publik terhadap institusi.
Prabowo kini berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan benar-benar membersihkan BGN dari mafia pangan? Ataukah pencopotan Dadan hanyalah sandiwara politik untuk mengamankan posisinya menjelang tantangan-tantangan berat di paruh kedua masa jabatan?
Satu hal pasti: Rakyat sudah lelah dengan retorika. Mereka menuntut kepastian hukum yang jelas, transparansi anggaran yang total, dan hukuman yang setimpal. Jangan biarkan nasi bergizi itu menjadi nasi berlumpur korupsi.[]
Penulis: Tim Redaksi Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi
Penulis: Ach. Efendi
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

