Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Pelajar SMAN Herlang Tewas Tenggelam, Sorotan Tajam Mengarah pada Legalitas & Keamanan Wisata
“Keindahan alam tidak boleh dibayar dengan nyawa. Jika infrastruktur rapuh dan pengelolaan ilegal, maka setiap selfie bisa menjadi foto terakhir.”
(Aktivis Keselamatan Wisata Bulukumba)
BULUKUMBA, SULSEL | 10 Juni 2026 - Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Seorang siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Herlang bernama Elmi Febrianti (17), warga Kelurahan Bontokamase, Kecamatan Herlang, tewas tragis setelah terjatuh dari anjungan jembatan kayu di kawasan wisata Tebing Apparalang pada Minggu (7/6/2026). Korban dinyatakan meninggal dunia usai dievakuasi dari perairannya yang ganas.
Peristiwa nahas ini terjadi saat kondisi cuaca di lokasi sedang buruk, ditandai dengan gelombang tinggi dan angin kencang. Informasi awal menyebutkan bahwa tiang penyangga jembatan kayu—yang kerap dijadikan spot foto oleh wisatawan—terdampak hempasan angin kuat, menyebabkan struktur goyah dan korban terjatuh ke laut.
Kasus ini bukan sekadar kecelakaan tunggal, melainkan membuka kembali luka lama terkait standar keselamatan dan status legalitas destinasi wisata viral di Bulukumba yang berkembang pesat tanpa pengawasan ketat pemerintah.
Ironi Kunjungan Selebriti: Baim Wong Survei Lokasi Sehari Sebelumnya
Dalam ironi yang memilukan, tragedi ini terjadi hanya selang beberapa hari setelah kawasan Tebing Apparalang dikunjungi oleh artis ternama Baim Wong beserta rombongannya. Pada akhir pekan sebelumnya, Baim Wong melakukan survei lokasi syuting di berbagai titik wisata Bulukumba, termasuk Pantai Bira, Pelabuhan Bira, Titik Nol Bira, dan Tebing Apparalang, didampingi oleh pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba.
Saat itu, Baim Wong sempat bertemu dengan Bupati Bulukumba di rumah jabatan dan memuji keindahan pesona alam Bulukumba. Kunjungan selebriti ini secara tidak langsung semakin memicu lonjakan kunjungan wisatawan ke Tebing Apparalang, meningkatkan keramaian di area yang sebenarnya masih minim fasilitas keselamatan standar.
"Sangat disayangkan, euforia kedatangan selebriti dan promosi wisata tidak diimbangi dengan audit keselamatan infrastruktur yang memadai. Jembatan kayu di tepi tebing dengan ombak besar adalah kombinasi mematikan jika tidak dirawat dengan standar teknik sipil," ujar seorang pengamat pariwisata lokal.
Status Pengelolaan Dipersoalkan: Retribusi Masuk Kantong Yayasan, Bukan Pemda
Pasca-tragedi, Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Pihak dinas menegaskan bahwa pungutan retribusi atau tiket masuk di Tebing Apparalang tidak dikelola oleh pemerintah daerah, melainkan oleh sebuah yayasan yang dibentuk oleh tokoh masyarakat setempat.
Akibatnya, kawasan ini dinilai belum memiliki legalitas pengelolaan resmi dari pemerintah. Dinas Pariwisata juga mengakui bahwa mereka sebelumnya telah多次 kali menyoroti aspek keselamatan pengunjung di kawasan yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, ini.
Fakta ini memicu pertanyaan publik:
1. Di mana peran pengawasan Pemda? Jika retribusi tidak masuk ke kas daerah, apakah Pemda lepas tangan soal standar keamanan?
2. Apakah yayasan pengelola memiliki kompetensi teknis untuk membangun dan merawat jembatan di area berisiko tinggi seperti tebing curam?
3. Siapa yang bertanggung jawab secara hukum atas kelalaian infrastruktur yang menyebabkan kematian?
Tebing Apparalang, yang terletak di tepi Teluk Bone sekitar 38 kilometer dari pusat kota Bulukumba, memang dikenal sebagai destinasi indah yang viral sejak 2016. Namun, transformasinya dari hutan belantara menjadi spot wisata populer sering kali mengabaikan prinsip safety first.
Penyelidikan Polisi: Fokus pada Kondisi Jembatan & Cuaca
Hingga berita ini diturunkan, Polres Bulukumba masih melakukan penyelidikan mendalam. Fokus utama penyidikan meliputi:
* Kondisi Teknis Jembatan: Apakah material kayu sudah lapuk? Apakah pondasi tiang cukup kuat menahan beban dan hembusan angin?
* Faktor Kelalaian Manusia: Apakah ada peringatan dini dari pengelola saat cuaca memburuk?
* Tanggung Jawab Pengelola: Apakah yayasan pengelola dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas kelalaian yang menyebabkan kematian?
Keluarga korban, yang masih berada dalam keadaan berduka, menuntut kejelasan dan tanggung jawab penuh dari pihak terkait. Mereka berharap kejadian ini tidak berakhir sebagai statistik kecelakaan biasa, melainkan menjadi momentum evaluasi serius.
Desakan Publik: Moratorium Sementara & Audit Keselamatan
Aktivis keselamatan wisata dan warga Bulukumba mendesak Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk:
1. Menutup Sementara Tebing Apparalang hingga dilakukan audit keselamatan menyeluruh oleh ahli struktur dan tim SAR.
2. Mengklarifikasi Status Hukum Pengelolaan: Memastikan siapa yang berhak memungut retribusi dan siapa yang wajib menjamin keselamatan pengunjung.
3. Standarisasi Infrastruktur: Mewajibkan semua spot foto di area berbahaya menggunakan material yang tahan cuaca ekstrem dan dilengkapi pagar pengaman serta lifebuoy.
Epilog: Waspadalah, Nyawa Lebih Berharga daripada Foto
Tragedi Elmi Febrianti adalah pengingat pahit bagi kita semua. Di era media sosial, godaan untuk mendapatkan foto estetik di lokasi ekstrem sering kali mengalahkan nalar keselamatan. Bagi para pengelola wisata, terutama yang berbasis komunitas, keuntungan finansial dari retribusi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan nyawa pengunjung.
Bagi para wisatawan, pesan utamanya jelas: Waspadalah. Perhatikan kondisi cuaca, hindari berdiri di tepi struktur yang tampak rapuh, dan utamakan keselamatan di atas konten media sosial.
Semoga arwah Elmi Febrianti diterima di sisi-Nya, dan semoga tragedi ini menjadi titik balik bagi perbaikan tata kelola wisata alam di Indonesia agar tidak lagi memakan korban jiwa.[]
Sumber: Laporan Polres Bulukumba, Pernyataan Dinas Pariwisata Kab. Bulukumba, & Konfirmasi Lapangan Homepublik.id
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Achmad Efendi
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

