• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Ultimatum 18 Hari: BEM SI Jawa Tengah Bakar Uang Mainan, Ancam “Reformasi Jilid 2” Jika Rupiah Tak Menguat.

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-06-07T15:38:38Z

           Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 


    BEM SI Jawa Tengah Bakar Uang Mainan, Ancam “Reformasi Jilid 2”


    “Kami membakar uang mainan ini sebagai simbol bahwa martabat rupiah sedang terbakar habis di hadapan dolar AS. Jika dalam 18 hari tidak ada perubahan nyata, kami akan turun lagi dengan skala yang lebih besar.”  

    (Juru Bicara Aliansi BEM SI Jawa Tengah)


    SEMARANG, JATENG | 7 Juni 2026 - Suasana tegang menyelimuti kawasan depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah di Semarang, Kamis (5/6/2026). Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi masif dengan satu pesan keras: Selamatkan Rupiah, atau hadapi kemarahan rakyat.


    Dalam aksi teatrikal yang menyita perhatian publik, para mahasiswa melakukan pembakaran uang kertas tiruan (uang mainan) bertuliskan "Rupiah" di depan gerbang kantor BI. Aksi simbolis ini merupakan bentuk protes keras terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang terus merosot, menembus level psikologis Rp18.000–Rp18.100 per Dolar AS.


    Lebih dari sekadar protes, aliansi ini memberikan ultimatum tegas: Pemerintah memiliki waktu 18 hari ke depan untuk mengambil langkah konkret menguatkan rupiah. Jika gagal, mereka mengancam akan menggelar gelombang demonstrasi nasional bertajuk "Reformasi Jilid 2".


    Mengapa 18 Hari? Simbol Perlawanan Terhadap Angka Keramat


    Durasi 18 hari bukanlah angka acak. Ini adalah simbol perlawanan langsung terhadap level kurs rupiah yang kini berada di kisaran Rp18.xxx. Bagi mahasiswa, angka 18.000 adalah "garis merah" kehancuran ekonomi makro yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, inflasi, dan potensi PHK massal di sektor industri.


    "Angka 18 hari adalah cerminan dari angka 18.000. Kami memberi waktu 18 hari karena kami tidak ingin melihat rupiah terus terjerembab di angka tersebut. Ini adalah batas kesabaran kami," ujar salah satu koordinator lapangan, Kevin Kurnia Priambodo, dalam orasinya.


    Tuntutan Konkret: Bukan Sekadar Janji Manis


    Aliansi BEM SI Jawa Tengah menyerahkan tiga tuntutan utama kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo:


    1.  Kebijakan Taktis & Struktural: Segera implementasikan kebijakan moneter dan fiskal yang efektif untuk menahan laju depresiasi rupiah, termasuk intervensi pasar valas yang transparan dan penguatan cadangan devisa.

    2.  Transparansi Ekonomi: Buka data real mengenai kondisi neraca perdagangan, utang luar negeri, dan aliran modal asing (capital outflow) yang diduga memicu tekanan pada rupiah.

    3.  Perlindungan Rakyat Kecil: Siapkan jaring pengaman sosial bagi UMKM dan masyarakat menengah-bawah yang paling terpukul oleh naiknya harga impor akibat rupiah lemah.


    Mahasiswa menegaskan, mereka lelah mendengar pidato optimisme pemerintah yang tidak sejalan dengan realitas di lapangan.

     "Kami menunggu tindakan nyata, bukan sekadar narasi 'fundamental ekonomi kuat' sambil melihat rupiah terus jatuh," tambah mereka.


    Aksi Penyegelan & Pembakaran: Pesan Moral yang Dalam


    Selain membakar uang mainan, massa juga melakukan aksi penyegelan simbolis terhadap pintu masuk Kantor BI Jateng. Pita kuning bertuliskan "Biaya Tinggi, Nilai Rendah" dipasang melintang, menyimbolkan kegagalan institusi keuangan negara dalam menjaga stabilitas mata uang.


    Pembakaran uang mainan menjadi momen paling dramatis. Api yang melahap lembaran kertas bergambar Garuda Pancasila itu disaksikan ratusan mahasiswa dengan hening. Itu adalah metafora pedih: Martabat bangsa yang turut terbakar bersama anjloknya nilai tukar.


    Ancaman Reformasi Jilid 2: Apakah Pemerintah Siap?


    Istilah "Reformasi Jilid 2" yang dilontarkan BEM SI bukan sekadar retorika kosong. Ini mengingatkan pada gelombang demonstrasi mahasiswa tahun 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru. Meskipun konteks saat ini berbeda, ancaman ini menunjukkan tingkat frustrasi generasi muda terhadap kondisi ekonomi-politik yang dianggap stagnan dan merugikan.


    Jika dalam 18 hari ke depan—tepatnya pada akhir Juni 2026—rupiah belum menunjukkan tren penguatan signifikan atau pemerintah tidak merilis kebijakan penyelamatan yang kredibel, BEM SI Jawa Tengah berjanji akan:

    *   Mengkoordinir aksi serentak di seluruh kampus di Jawa Tengah.

    *   Menggalang solidaritas nasional dengan BEM SI daerah lain.

    *   Melakukan pendudukan simbolis di kantor-kantor instansi ekonomi negara.


    Respons Pemerintah: Diam atau Bereaksi?


    Hingga berita ini diturunkan, Kantor BI Jateng maupun Pemprov Jawa Tengah belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi ultimatum tersebut. Sikap diam ini justru semakin memanaskan suasana di media sosial, di mana warganet terbelah antara mendukung semangat kritis mahasiswa atau menganggap aksi tersebut terlalu radikal.


    Namun, sejarah mencatat bahwa gerakan mahasiswa sering kali menjadi katalisator perubahan kebijakan. Apakah ultimatum 18 hari ini akan didengar oleh Istana Negara dan Kemenkeu? Ataukah akan berakhir seperti angin lalu, sebelum badai "Reformasi Jilid 2" benar-benar menghantam?


    Satu hal pasti: Mata publik kini tertuju pada grafik kurs rupiah dan langkah-langkah strategis pemerintah. Jam pasir 18 hari telah dimulai.[]


    Sumber: Laporan Lapangan Homepublik.id & Konfirmasi Aliansi BEM SI Jawa Tengah

    Editor: Tim Redaksi Homepublik.id

    Penulis: Khoirun Nisa 

    Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler