"Bos Galian C" di Palembang: Korban Diikat, Dipukul, hingga Teriak-teriak
“Polisi semua kawan aku!”
(Kalimat pilu korban dalam video viral yang kini menjadi sorotan nasional.)
PALEMBANG, SUMSEL | 8 Juni 2026 - Sebuah video brutal beredar luas di media sosial, memicu kemarahan publik dan desakan penegakan hukum yang tegas. Video tersebut memperlihatkan aksi penganiayaan terhadap seorang pria muda oleh sekelompok orang yang diduga merupakan anak buah dari seorang "Bos Galian C" di wilayah Palembang, Sumatera Selatan.
Dalam rekaman berdurasi beberapa menit itu, terlihat seorang pria (korban) dalam kondisi terikat, babak belur, dan menangis memohon ampun. Sang pelaku, yang diduga adalah pemilik atau mandor tambang galian C, tampak marah besar sambil memukuli korban. Puncak ketegangan terjadi ketika korban, dengan suara terbata-bata dan penuh ketakutan, berteriak: "Polisi semua kawan aku! Polisi semua kawan aku!"
Kalimat tersebut sontak menjadi viral dan memicu spekulasi liar di masyarakat: Apakah ada perlindungan aparat terhadap praktik tambang ilegal atau premanisme di wilayah tersebut?
Kronologi: Truk Hilang, Amarah Meledak
Berdasarkan informasi yang dihimpun Homepublik.id dari berbagai sumber lokal dan laporan warga, insiden ini bermula dari hilangnya sebuah unit truk dump yang digunakan untuk mengangkut material galian C. Pelaku (inisial AJN, diduga bos tambang) menuduh korban—yang merupakan salah satu karyawannya atau sopir—telah mencuri atau menggelapkan truk tersebut.
Alih-alih melapor ke kepolisian secara resmi, AJN dan rombongan justru melakukan "main hakim sendiri". Mereka menangkap korban, membawanya ke lokasi sepi, mengikat tangan dan kakinya, lalu melakukan penyiksaan fisik berupa pukulan dan tendangan. Aksi brutal ini direkam oleh salah satu orang di lokasi dan kemudian tersebar luas di Facebook, TikTok, dan Instagram pada awal Juni 2026.
Netizen Geram: Bukan Sekadar Penganiayaan, Tapi Penyalahgunaan Wewenang?
Reaksi warganet tidak hanya tertuju pada kebrutalan pelaku, tetapi juga pada kalimat korban: "Polisi semua kawan aku."
Banyak netizen menduga bahwa korban mungkin memiliki koneksi dengan aparat, atau justru kalimat itu adalah upaya putus asa korban untuk menakut-nakuti pelaku agar berhenti. Namun, ada pula yang berspekulasi bahwa kalimat tersebut menyiratkan adanya jaringan perlindungan antara oknum aparat dengan para pengusaha tambang ilegal atau galian C yang sering beroperasi tanpa izin jelas.
"Jika benar polisi 'kawan' dia, kenapa tidak dilindungi? Atau jangan-jangan, ini sindiran bahwa selama ini aparat tutup mata terhadap aktivitas galian C yang merusak lingkungan?" tulis seorang warganet di kolom komentar.
Selain itu, banyak juga yang mempertanyakan legalitas izin galian C milik inisial AJN. "Daripada fokus pada siapa yang dipukul, usut dulu izin tambangnya. Biasanya, kekerasan seperti ini terjadi di tambang-tambang ilegal yang tidak punya payung hukum kuat," tambah akun lain.
Respons Polri: Polresta Palembang Turunkan Tim
Menyusul viralnya video tersebut, Polresta Palembang melalui Kabag Humas dikonfirmasi telah menurunkan tim untuk mengusut kasus ini. Polresta menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri dan penganiayaan adalah tindak pidana yang tidak dapat dibenarkan, apapun alasannya.
"Kami sedang mendalami identitas pelaku dan korban. Jika terbukti ada unsur penganiayaan dan pembatasan kebebasan bergerak, kami akan proses sesuai UU. Kami juga akan mengecek kebenaran klaim korban terkait keterlibatan aparat," ujar sumber internal Polresta Palembang, Minggu (7/6/2026).
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi apakah ada oknum polisi yang memang "berteman" dengan korban atau pelaku. Polresta juga belum memberikan keterangan apakah izin galian C milik AJN legal atau tidak.
Dampak Sosial: Desakan Transparansi Izin Tambang
Kasus ini kembali membuka luka lama masyarakat Sumatera Selatan terhadap maraknya tambang galian C ilegal yang merusak lingkungan, menyebabkan longsor, dan sering kali melibatkan premanisme. Praktik "main hakim sendiri" oleh pemilik tambang terhadap pekerja atau warga yang dianggap mengganggu operasi tambang bukanlah hal baru, namun jarang terekspos sebrutal ini.
Aktivis lingkungan dan pemerhati hukum di Sumsel mendesak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Polresta Palembang untuk tidak hanya menangani aspek pidananya (penganiayaan), tetapi juga audit menyeluruh terhadap izin-izin galian C di wilayah Palembang dan sekitarnya.
"Jangan sampai kasus ini selesai dengan damai di bawah meja. Publik butuh kepastian: Apakah tambang ini legal? Siapa yang melindungi? Dan apakah ada aparat yang terlibat?" tegas seorang aktivis LSM Anti-Korupsi Sumsel.
Epilog: Keadilan untuk Korban, Kepastian untuk Rakyat
Video viral ini adalah tamparan keras bagi penegakan hukum di Sumatera Selatan. Jika kalimat "Polisi semua kawan aku" terbukti hanya kebohongan korban yang putus asa, maka itu tragis. Namun, jika kalimat itu mengandung kebenaran—bahwa ada oknum aparat yang berkolusi dengan pemilik tambang—maka ini adalah skandal besar yang harus dibersihkan.
Rakyat menunggu: Apakah Polresta Palembang akan berani mengusut tuntas hingga ke akar-akarnya? Ataukah kasus ini akan tenggelam seiring berlalunya tren media sosial?
Satu hal pasti: Kekerasan bukan solusi, dan impunitas (kebal hukum) adalah musuh bersama.[]
Sumber: Laporan Warga, Video Viral & Konfirmasi Polresta Palembang
Editor: Tim Homepublik.id
Penulis: Fathurrozi
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

