Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
“Inovasi bukan sekadar teknologi, tapi jembatan antara harapan pasien dan kepastian diagnosa.”
— dr. Makiyatunnisa, Pengembang Aplikasi Deteksi TB UPT Puskesmas Darek
DAREK, LOMBOK TENGAH | 18 Mei 2026. Di tengah tantangan global dalam penanganan Tuberkulosis (TB), sebuah terobosan signifikan lahir dari ujung tombak pelayanan kesehatan dasar. UPT Puskesmas Darek, Kabupaten Lombok Tengah, resmi menguji kelayakan aplikasi penemuan kasus TB buatan sendiri pada Senin (18/5/2026). Inovasi ini merupakan hasil Capstone Project yang digagas oleh dokter muda berprestasi, dr. Makiyatunnisa (dipanggil dr. Maki), menandai langkah konkret puskesmas menuju era pelayanan kesehatan digital yang terintegrasi.
Acara uji kelayakan berlangsung khidmat di ruang pertemuan UPT Puskesmas Darek, dihadiri oleh jajaran tenaga kesehatan, pembimbing akademik dari Universitas Mataram (Unram), serta pemangku kepentingan terkait. Suasana penuh harap tersebut dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Mujib Al-Makky, S.Pd.Gr., simbolisasi bahwa kemajuan teknologi tetap berlandaskan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Apresiasi Pimpinan: Bangga pada Dedikasi Dokter Muda
Kepala UPT Puskesmas Darek, Mujiburrahman, ST., dalam sambutannya menyampaikan kebanggaan mendalam terhadap dr. Maki. Ia menilai kehadiran aplikasi ini bukan hanya alat bantu administratif, melainkan bukti dedikasi tinggi seorang abdi negara dalam memecahkan masalah klasik kesehatan masyarakat: lambatnya deteksi dini TB.
“Kami sangat bangga terhadap dr. Maki yang telah memberikan kontribusi khusus melalui inovasi aplikasi ini. Ini adalah wajah baru Puskesmas Darek: modern, responsif, dan berbasis data. Semoga aplikasi ini tidak hanya bermanfaat secara internal, tetapi juga mampu mewakili kita dalam ajang lomba inovasi di Dinas Kesehatan tingkat Lombok Tengah,” ujar Mujiburrahman dengan semangat.
Ia menekankan bahwa di era disrupsi digital, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) harus beradaptasi. Penanganan penyakit menular seperti TB memerlukan kecepatan dan akurasi data yang sulit dicapai dengan metode manual konvensional.
Dari Internal Puskesmas Hingga Jangkauan Kader Posyandu
Dalam sesi presentasi teknis, dr. Makiyatunnisa menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang untuk mempermudah alur kerja penemuan kasus (case finding) TB. Saat ini, aplikasi difokuskan untuk penggunaan internal staf medis Puskesmas Darek. Namun, visi jangka panjangnya jauh lebih ambisius: integrasi dengan jaringan kader kesehatan di setiap Posyandu.
“Aplikasi ini dibuat untuk memangkas birokrasi pendataan. Nantinya, kader-kader di posyandu akan dilibatkan sebagai ‘mata dan telinga’ di lapangan. Dengan input data real-time melalui aplikasi, pelacakan kasus menjadi lebih cepat, akurat, dan terintegrasi,” jelas dr. Maki.
Strategi ini sejalan dengan paparan Ibu Nining, Penanggung Jawab Program TB UPT Puskesmas Darek, yang menegaskan dua pendekatan utama penanganan TB di wilayahnya:
1. Pasif Intensif: Skrining menggunakan alat PCM (Portable Chest Mobile) untuk deteksi cepat bagi pasien yang datang berobat.
2. Aktif Masif: Investigasi kontak langsung ke lapangan dan pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.
Kehadiran aplikasi ini diharapkan memperkuat pendekatan aktif masif dengan menyediakan basis data yang dinamis dan mudah diakses.
Dukungan Akademik & Kolaborasi Strategis
Inovasi ini tidak lepas dari dukungan akademis. Dosen pembimbing dari Universitas Mataram memberikan motivasi agar tim pengembang tidak cepat puas.
“Project ini adalah langkah awal. Jangan berhenti sampai di sini. Teknologi kesehatan harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Aplikasi ini sangat potensial, namun membutuhkan penyempurnaan berkelanjutan agar tetap relevan,” ungkap dosen pembimbing.
Senada dengan itu, Muliadi, salah satu tokoh yang hadir, menekankan pentingnya maintenance dan update sistem. “Aplikasi ada masanya jika tidak dirawat. Kami berharap ini menjadi solusi permanen, bukan sekadar proyek musiman. Dr. Maki adalah sosok produktif yang patut kita banggakan,” katanya.
Untuk memperkuat fondasi penelitian dan pengembangan ini, acara juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UPT Puskesmas Darek dan Universitas Mataram. Kerja sama ini membuka jalan bagi kolaborasi lebih luas dalam bidang pendidikan kedokteran, penelitian epidemiologi, dan inovasi teknologi kesehatan tepat guna.
Kagum dari Rekan Sejawat
Apresiasi juga datang dari rekan sejawat, dr. Laki Muda, yang mengakui kompleksitas pembuatan aplikasi kesehatan yang memenuhi standar medis.
“Saya sangat kagum kepada dr. Maki. Mengembangkan aplikasi yang fungsional di tengah kesibukan praktik klinis adalah hal luar biasa. Meski masih ada ruang untuk penyempurnaan, semangat inovasi beliau adalah inspirasi bagi kami semua,” ujarnya.
Menekan Angka TB, Satu Data di Satu Waktu
Melalui uji kelayakan ini, UPT Puskesmas Darek mengirimkan pesan kuat: transformasi digital di sektor kesehatan bukan monopoli rumah sakit besar atau pemerintah pusat. Inovasi bisa lahir dari puskesmas di daerah, digerakkan oleh SDM lokal yang peduli.
Dengan aplikasi ini, diharapkan angka penemuan kasus TB di Kabupaten Lombok Tengah dapat meningkat, sementara waktu tunggu diagnosa dan pengobatan dapat ditekan. Lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa ketika teknologi bertemu dengan empati medis, pelayanan kesehatan menjadi lebih manusiawi, efisien, dan efektif.
Selamat untuk UPT Puskesmas Darek dan dr. Makiyatunnisa. Kalian telah membuktikan bahwa masa depan kesehatan Indonesia dimulai dari langkah kecil yang cerdas di tingkat desa.[]
Sumber: UPT Puskesmas Darek & Tim Capstone Project
Editor: Tim Redaksi Kesehatan & Teknologi Homepublik.id
Penulis: Jieb / Kabiro Lombok Tengah
Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan

