• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Alarm Bahaya di Porong: Volume Lumpur Lapindo Melampaui Bibir Tanggul Lama, Warga Siring & Ketapang Keres Dihantui Trauma Kebocoran 2018.

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-06-12T19:13:36Z

     

           Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 



    Volume Lumpur Lapindo Melampaui Bibir Tanggul Lama, Warga Siring & Ketapang Keres Trauma


    “Airnya sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 lalu. Jika tanggul jebol lagi, rumah-rumah kami akan tenggelam dalam hitungan jam.”  

    (Misno, Warga Kelurahan Siring, Porong)


    SIDOARJO, JATIM | 12 Juni 2026 - Kondisi keamanan di sekitar area pusat semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, kembali memicu kekhawatiran serius. Dalam dua pekan terakhir, volume material air dan lumpur dilaporkan terus merangkak naik hingga melampaui batas elevasi bibir tanggul lama di titik krusial, khususnya di Titik 71, kawasan perbatasan antara Kelurahan Siring (Porong) dan Kelurahan Ketapang Keres (Tanggulangin).


    Fenomena ini memaksa pihak berwenang, termasuk Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dan PT Lapindo Brantas, melakukan upaya darurat secara maraton berupa peninggian serta penebalan struktur tanggul penahan tanah. Namun, langkah ini dinilai banyak pihak sebagai solusi tambal sulam yang tidak menyelesaikan akar masalah dari bencana yang telah berlangsung selama dua dekade tersebut.


    Titik 71: Garis Depan Pertahanan yang Terancam Jebol


    Pantauan lapangan menunjukkan bahwa permukaan lumpur di kolam penampungan utama kini berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Di Titik 71, air bercampur lumpur panas terlihat hanya berjarak beberapa sentimeter dari puncak tanggul baru yang sedang dibangun. 


    "Volume lumpur terus bertambah. Sekarang permukaannya sudah lebih tinggi dari bibir tanggul lama, makanya tanggul ditinggikan," ujar Misno, warga setempat yang menyaksikan langsung aktivitas alat berat yang bekerja siang malam.


    Kenaikan volume ini diduga disebabkan oleh dua faktor utama:

    1.  Aktivitas Semburan yang Masih Tinggi: Meski sudah 20 tahun berlalu sejak semburan pertama pada 29 Mei 2006, aliran lumpur dan gas hidrokarbon dari perut bumi masih belum sepenuhnya berhenti.

    2.  Terhentinya Aliran ke Sungai Porong: Sebagian besar lumpur yang sebelumnya dialirkan ke Sungai Porong kini tertahan di kolam penampungan karena masalah sedimentasi dan kapasitas sungai yang terbatas, menyebabkan akumulasi massa yang cepat di dalam tanggul.


    Trauma Masa Lalu: Bayang-Bayang Kebocoran 2018


    Kekhawatiran warga bukan tanpa dasar. Pada tahun 2018, kawasan ini pernah mengalami insiden kebocoran tanggul yang menyebabkan luapan lumpur ke pemukiman warga di sekitarnya. Ribuan rumah terendam, lahan pertanian rusak, dan aktivitas ekonomi lumpuh total selama berminggu-minggu.


    "Kami trauma. Setiap kali hujan deras atau volume lumpur naik, kami tidak bisa tidur nyenyak. Takut sejarah kelam itu terulang," kata seorang warga Ketapang Keres lainnya.


    Selain ancaman luapan, fenomena penurunan muka tanah (subsidence) secara berkala di kawasan sekitar juga memperparah kondisi. Tanah yang terus ambles memaksa dilakukannya rekonstruksi tanggul secara kontinu, yang tentunya memakan biaya operasional raksasa setiap tahunnya.


    Respons Pihak Berwenang: Upaya Darurat Terus Dilakukan


    Menanggapi situasi ini, juru bicara BPLS menyatakan bahwa pihaknya bersama PT Lapindo Brantas terus memantau stabilitas tanggul 24 jam sehari. Peninggian tanggul di Titik 71 dan titik-titik kritis lainnya dilakukan sebagai langkah antisipasi preventif.


    "Kami menyadari risikonya. Oleh karena itu, penambahan ketinggian tanggul dan penebalan struktur dilakukan dengan standar teknis tertinggi. Alat-alat monitoring juga dipasang untuk mendeteksi adanya rembesan atau pergeseran tanah sedini mungkin," jelas perwakilan BPLS.


    Namun, pernyataan ini belum sepenuhnya menenangkan hati warga. Mereka menuntut transparansi data mengenai proyeksi volume lumpur ke depan dan rencana jangka panjang penanganan bencana ini. Apakah lumpur akan terus ditampung selamanya? Atau ada teknologi baru untuk menghentikan semburan secara permanen?


    Bencana Abadi yang Tak Kunjung Usai


    Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat lama bagi sebuah bencana industri. Namun, bagi warga Porong dan Tanggulangin, waktu seolah berhenti di tahun 2006. Ancaman lumpur panas masih menghantui setiap napas mereka.


    Kenaikan volume lumpur di Titik 71 adalah peringatan keras bahwa bencana Lapindo bukanlah masa lalu, melainkan realitas masa kini yang terus bergerak. Jika pemerintah dan perusahaan gagal mengelola risiko ini dengan baik, bukan tidak mungkin tragedi kemanusiaan dan ekologis yang lebih besar akan segera terjadi.


    Publik menunggu kejelasan: Kapan derita warga Sidoarjo ini akan benar-benar berakhir? Ataukah mereka harus hidup selamanya di bawah bayang-bayang tanggul yang rapuh?[]


    Sumber: Laporan Lapangan Konfirmasi Warga Siring & Ketapang Keres, serta Data BPLS Sidoarjo

    Editor: Tim Redaksi Homepublik.id

    Penulis: Wawa

    Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler