Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Kisah Yasmin Azhar Khan, Wanita Katolik yang Menemukan Cahaya Islam
“Tasbih ini adalah pengingat. Setiap butirnya adalah napas dzikir. Jika ia diam, ia 'lapar'. Jangan biarkan ia kelaparan, karena saat tasbihmu lapar, hatimu pun akan kering.”
(Pesan Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad kepada Yasmin Azhar Khan)
YOGYAKARTA | 11 Juni 2026 Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering kali membuat jiwa merasa hampa, sebuah kisah lama kembali bergema, membawa sejuk bagi mereka yang merindukan ketenangan spiritual. Kisah ini berasal dari lembaran buku foto terbaru karya fotografer legendaris Peter Sanders, berjudul Meetings with Mountains (Pertemuan dengan Para Gunung/Puncak Ilmu).
Selama 50 tahun, Sanders berkeliling dunia, dari Mauritania hingga Meknes, dari Sarang hingga Jeddah, mengabadikan wajah-wajah para wali Allah. Salah satu narasi paling menyentuh dalam bukunya adalah tentang Yasmin Azhar Khan, seorang wanita sepuh berdarah campuran, yang perjalanan hidupnya menjadi bukti nyata bahwa cinta Tuhan tidak mengenal batas agama awal, melainkan keterbukaan hati.
Dari Katolik ke Pelukan Islam: Sebuah Takdir yang Tertulis
Yasmin tumbuh dalam keluarga Katolik. Masa kecilnya diwarnai oleh kerapuhan fisik; ia sering sakit parah. Dalam kondisi tak berdaya, ia kerap melihat sosok nenek dari pihak ibunya yang telah wafat, duduk di sampingnya, menunggui dengan tatapan penuh kasih. Sosok itu menjadi simbol perlindungan dalam ingatannya.
Pada usia 19 tahun, Yasmin menikah dengan seorang pria Muslim asal Pakistan. Sang suami, dengan kelembutan hatinya, tidak memaksa Yasmin untuk berpindah agama. "Ikutilah keyakinanmu," kata suaminya. Namun, takdir Allah memiliki skenario yang lebih indah. Pada tahun 1960, Yasmin menunaikan ibadah Haji untuk pertama kalinya. Pengalaman suci di Tanah Suci itu perlahan membuka pintu hatinya terhadap Islam.
Namun, ujian terbesar datang tiga dekade kemudian. Tahun 1990, setelah suaminya meninggal, Yasmin jatuh sakit berat. Demam tinggi melanda tubuhnya tepat saat ia hendak berangkat haji untuk kedua kalinya. Dalam keadaan delirium dan tak berdaya, ia hanya bisa pasrah.
"Ya Allah, beginilah keadaanku. Hamba lemah. Mohon jaga hamba," bisiknya dalam doa sebelum akhirnya tertidur pulas.
Mimpi yang Mengubah Segalanya
Dalam tidurnya, Yasmin mengalami pengalaman mistis yang mengubah hidupnya. Ia membuka mata dan melihat seorang lelaki duduk di kamarnya. Postur dan cara duduk lelaki itu sangat mirip dengan sosok neneknya yang sering ia lihat dulu. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan tenang dan menyejukkan. Yasmin memandangnya balik, merasakan kedamaian yang tak terkira, sebelum akhirnya tertidur kembali.
Ajaibnya, ketika ia terbangun, demamnya telah sirna. Tubuhnya terasa ringan.
Beberapa hari kemudian, saat berkunjung ke rumah seorang teman, Yasmin terkejut. Di dinding rumah temannya, tergantung sebuah foto seorang ulama. Wajah dalam foto itu persis seperti lelaki dalam mimpinya.
"Siapa beliau?" tanya Yasmin gemetar.
Temannya menjawab, "Itu adalah Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, seorang waliyullah yang mulia."
Tanpa ragu, Yasmin memutuskan untuk menemui sang Habib di Jeddah.
Pertemuan di Jeddah: "Jangan Biarkan Tasbihmu Kelaparan"
Pertemuan antara Yasmin dan Habib Ahmad Masyhur al-Haddad terjadi di kediaman sang Habib di Jeddah. Suasana hangat menyelimuti pertemuan dua insan yang dipertemukan oleh takdir gaib. Setelah berbincang singkat, saat Yasmin hendak pamit, Habib Ahmad memberinya sebuah hadiah sederhana namun bermakna dalam: sebuah tasbih.
Sambil menyerahkan tasbih itu, Habib Ahmad berpesan dengan nada lembut namun tegas:
“Jangan biarkan benda ini ‘kelaparan’.”
Yasmin awalnya bingung. Apa maksud tasbih bisa lapar? Namun, ia menyimpan pesan itu dalam-dalam.
Kebahagiaan Yasmin semakin lengkap ketika ia membeli sebuah liontin bertuliskan "Masyaallah" di Mekah. Liontin itu menjadi representasi rasa kagumnya pada kebesaran Allah yang telah menyembuhkannya dan mempertemukannya dengan sang Wali. Saat ia sowan kembali kepada Habib Ahmad dan memperlihatkan liontin itu, sang Habib hanya tersenyum dan mengucapkan, "Masyaallah!" Seolah mengiyakan bahwa segala keindahan yang dirasakan Yasmin adalah kehendak Allah semata.
Makna "Tasbih yang Kelaparan"
Kisah Yasmin, yang dinarasikan ulang oleh Peter Sanders, menjadi perbincangan hangat di kalangan ulama dan pecinta tasawuf. Habiburrahman Assegaf, hingga Habib Ali Al-Jufri, sering menceritakan kembali kisah ini sebagai pengingat pentingnya dzikir.
Apa makna "Jangan biarkan tasbihmu kelaparan"?
Para ulama menafsirkannya demikian: Tasbih adalah alat bantu dzikir. Ia "makan" atau "hidup" dari ucapan nama-nama Allah (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar). Jika tasbih dibiarkan tergantung begitu saja tanpa pernah digunakan untuk berdzikir, maka ia "kelaparan". Dan jika tasbih—simbol koneksi hamba dengan Tuhannya—kelaparan, maka hati pemiliknya pun akan ikut "kelaparan" akan cahaya spiritual, ketenangan, dan keberkahan.
Pesan ini relevan bagi siapa saja, terutama di era digital yang penuh distraksi. Dzikir adalah makanan ruh. Tanpanya, jiwa akan layu.
Apresiasi Peter Sanders: Memotret Wajah-Wajah Bercahaya
Buku Meetings with Mountains bukan sekadar kumpulan foto. Ia adalah dokumentasi visual dari jerih payah 50 tahun Peter Sanders. Saat peluncuran buku tersebut di Bradford, Inggris, Habib Ali Al-Jufri hadir memberikan sambutan. Beliau menyatakan dua alasan kehadirannya:
1. Karena Peter Sanders adalah sahabat lamanya.
2. Karena apresiasi terhadap kerja keras Peter mengabadikan "wajah-wajah bercahaya" para wali.
"Wajah-wajah ini, jika dipandang dengan hati yang bersih, dapat meneguhkan iman di dalam sanubari," ujar Habib Ali.
Kisah Yasmin Azhar Khan, dari seorang wanita Katolik yang sakit-sakitan hingga menjadi muslimah yang dekat dengan para wali, adalah bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui mimpi, melalui perantara orang saleh, dan melalui benda sederhana seperti tasbih.
Mari kita ambil pelajaran: Rawatlah tasbih kita. Rawatlah dzikir kita. Jangan biarkan mereka kelaparan, agar hati kita tetap kenyang akan cahaya Ilahi.[]
Sumber: Narasi Peter Sanders dalam Meetings with Mountains & Kajian Zia Ul Haq (Alumnus Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta)
Penulis: Tim Redaksi Homepublik.id
Editor: Wawa
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

