Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Nazar Mustofa Tempuh 40 Kilometer Jalan Kaki Pulang Haji, Perjalanan Syukur yang Menggetarkan Hati
“Kaki ini lelah, tapi hati ini ringan. Setiap langkah adalah dzikir, setiap keringat adalah bayar utang syukur kepada Allah SWT. Ini bukan tentang seberapa cepat saya pulang, tapi seberapa khusyuk saya merasakan nikmatnya menjadi hamba-Nya.”
(Nazar Mustofa, Jemaah Haji yang Menempuh 40 KM Jalan Kaki)
JAKARTA/BEKASI | 12 Juni 2026 - Di tengah hiruk-pikuk modernitas di mana segala sesuatu serba instan—pesawat jet, kereta cepat, dan mobil mewah—sebuah kisah sederhana namun luar biasa kembali menggoreskan tinta emas dalam lembaran sejarah ibadah umat Islam di Indonesia. Nazar Mustofa, seorang jemaah haji asal Bekasi, memilih menempuh jalur yang jarang dipilih: berjalan kaki sejauh 40 kilometer dari titik kedatangan hingga ke rumahnya, sebagai wujud rasa syukur atas terselesaikannya rukun Islam kelima tersebut.
Perjalanan yang dimulai sejak subuh hari itu bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah meditasi spiritual bergerak. Dengan mengenakan kain ihram yang masih melekat (atau pakaian putih sederhana) dan membawa tas kecil berisi bekal minum serta Al-Qur’an saku, Nazar melangkah tegar di bawah terik matahari, melewati jalan raya, jembatan layang, dan pemukiman padat, diselingi tatapan takjub dan doa-doa dukungan dari warga yang melihatnya.
Bukan Pamer, Tapi Ekspresi Rasa Syukur yang Tak Terucap
Bagi banyak orang, menempuh 40 kilometer dengan berjalan kaki adalah tantangan ekstrem. Namun, bagi Nazar, itu adalah cara ia "memeluk" kebahagiaannya. "Saat di Tanah Suci, kita merasa sangat kecil di hadapan Ka'bah. Saat pulang, saya ingin merasakan betapa besarnya nikmat Allah dengan cara yang sederhana: menggunakan nikmat tubuh (kaki) yang sehat untuk melangkah menuju keluarga," ujarnya saat ditemui di tengah perjalanan, tepatnya di kawasan Cilincing.
Nazar menjelaskan bahwa ide ini muncul secara spontan setelah ia menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar. Ia merasa ada "utang syukur" yang harus dibayar bukan dengan materi, melainkan dengan pengorbanan tenaga dan waktu. "Saya ingin setiap langkah mengingatkan saya pada perjuangan para Nabi dan Sahabat yang berjalan demi agama. Ini adalah haji kedua saya, dan saya ingin momen pulangnya berbeda, lebih bermakna," tambahnya.
Respons Warga: Dari Heran Menjadi Haru
Awalnya, banyak pengendara motor dan mobil yang melintas sempat bingung melihat pria paruh baya itu berjalan kaki di tepi jalan raya. Beberapa bahkan mengira ia kehilangan arah atau mengalami masalah dengan transportasinya. Namun, setelah mengetahui tujuannya, reaksi mereka berubah drastis.
"Awalnya saya kira bapak itu tersesat. Tapi setelah tahu beliau baru pulang haji dan berjalan kaki untuk syukur, saya langsung turun dari motor, memberi minum, dan meminta didoakan. Ini pelajaran berharga buat kami yang sering lupa bersyukur," kata Budi (35), seorang ojek online yang sempat mendampingi Nazar selama 2 kilometer.
Sepanjang rute, Nazar kerap dihentikan oleh warga yang ingin bersalaman, meminta doa, atau sekadar memberikan air mineral dan buah-buahan. Fenomena ini menunjukkan betapa masyarakat masih rindu akan keteladanan spiritual yang tulus dan jauh dari pencitraan.
Pelajaran Spiritual di Era Materialistis
Kisah Nazar Mustofa menjadi kontras tajam di era di mana ibadah sering kali dikaitkan dengan status sosial. Banyak jemaah haji yang berlomba-lomba memamerkan fasilitas VIP, hotel bintang lima, atau oleh-oleh mewah di media sosial. Nazar, sebaliknya, memilih kemewahan kerendahan hati.
Pengamat sosiologi agama, Dr. Amina Wadud, menilai tindakan Nazar sebagai bentuk resistensi spiritual terhadap konsumerisme agama. "Dalam dunia yang sibuk menghitung 'berapa mahal' ibadah seseorang, Nazar mengingatkan kita bahwa nilai tertinggi ibadah adalah ketulusan dan rasa syukur. Jalan kakinya adalah simbol bahwa iman tidak butuh kemewahan untuk divalidasi," ujarnya.
Epilog: Sampai di Rumah, Air Mata Bersyukur Mengalir
Setelah menempuh waktu sekitar 8-10 jam dengan istirahat seadanya, Nazar akhirnya tiba di depan pintu rumahnya. Istrinya dan anak-anaknya menyambut dengan tangis haru, bukan karena khawatir, tetapi karena bangga memiliki suami dan ayah yang begitu mencintai Allah.
"Alhamdulillah. Saya pulang. Bukan hanya pulang ke rumah, tapi pulang ke fitrah," ucap Nazar sambil mencium tangan istrinya.
Kisah Nazar Mustofa mungkin tidak akan masuk rekor dunia Guinness, tetapi ia telah mencatat rekor di hati ribuan orang yang membacanya. Ia mengajarkan bahwa syukur tidak selalu perlu diucapkan dengan kata-kata indah, tapi bisa dituliskan dengan jejak kaki yang penuh keteguhan.
Semoga perjalanan Nazar menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menemukan cara-cara unik dan tulus dalam bersyukur kepada Sang Pencipta. Karena sejatinya, ibadah terbesar adalah ketika kita mampu menjadikan setiap napas dan langkah sebagai bentuk cinta kepada-Nya.[]
Sumber: Wawancara Eksklusif dengan Nazar Mustofa & Laporan Warga Sekitar
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis:
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

