• Jelajahi

    Copyright © Home Publik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Kapolresta Pontianak: “Ketika Kaca Hati Berdebu: Renungan tentang Cahaya Allah di Tengah Gelapnya Zaman”.

    Home Publik
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-06-07T06:24:51Z

     

          Homepublik.id|Media Nasional Terdepan 


    Renungan Kapolresta Pontianak tentang Cahaya Allah di Tengah Gelapnya Zaman


    “Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar...”  

    (QS. An-Nur: 35)


    PONTIANAK, KALBAR | 5 Juni 2026 - Di tengah hiruk-pikuk kota Pontianak yang tak pernah tidur, sebuah pesan sederhana namun menusuk kalbu datang dari sosok yang biasa kita kenal tegas dalam seragam dinas: Kapolresta Pontianak.


    Dalam sebuah momen reflektif, Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Endang Tri Purwanto menyampaikan sebuah renungan yang terasa seperti embun pagi di tengah teriknya masalah kehidupan. "Tiba-tiba kita merasa gelap," ujarnya, membuka pintu hati para pendengarnya. Lalu, ia menawarkan "buah penyegaran" bagi jiwa-jiwa yang letih, khususnya umat Islam, dengan merujuk pada salah satu ayat paling indah dalam Al-Qur’an: Surat An-Nur ayat 35.


    "Allahu nurus samawati wal ardhi..." (Allah adalah Cahaya langit dan bumi).


    Metafora Lentera dan Kaca yang Berdebu


    Ayat tersebut menggambarkan cahaya Allah seperti sebuah lentera (misbah) yang berada dalam kaca (zujajah). Kaca itu jernih, berkilau seperti bintang mutiara, dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang diberkahi. Cahayanya begitu terang, hampir-hampir menyala sendiri tanpa disentuh api.


    Namun, Kapolresta Pontianak kemudian melontarkan pertanyaan retoris yang menohok kesadaran kita:


    "Kira-kira, kalau kaca itu penuh dengan debu, penuh dengan arang, dicoret-coret, dan dikotori oleh berbagai hal, apakah lampunya akan tetap menyala terang?"


    Jawabannya jelas: Tidak. Atau setidaknya, cahayanya akan redup, temaram, dan sulit menembus kegelapan di sekitarnya.


    Debu Apa yang Menutupi Kaca Hati Kita?


    Dalam konteks spiritual, "kaca" tersebut adalah hati manusia. Dan "cahaya" adalah hidayah, ketenangan, dan petunjuk dari Allah SWT.


    Pertanyaan Kapolresta Pontianak mengajak kita melakukan introspeksi diri (muhasabah):

    1. Debu Dosa: Setiap kebohongan kecil, setiap pandangan mata yang haram, setiap ghibah (menggunjing), adalah lapisan debu tipis yang menempel di kaca hati.

    2. Arang Kedengkian: Rasa iri hati, dengki, dan hasad adalah seperti arang hitam yang menghitamkan permukaan kaca, menghalangi cahaya masuk.

    3. Coretan Dunia: Kesibukan mengejar harta, jabatan, dan validasi media sosial adalah "coretan-coretan" yang membuat kaca hati menjadi keruh, tidak lagi bening memantulkan cahaya Ilahi.


    Ketika kaca hati kita kotor, meski sumber cahayanya (Allah) tetap sama terangnya, kita lah yang merasa "gelap". Kita merasa gelisah, kosong, dan kehilangan arah. Bukan karena Allah menjauh, tapi karena kita yang menutup jendela penerimaan cahaya-Nya.


    Membersihkan Kaca: Tugas Utama Seorang Hamba


    Pesan moral dari Kapolresta Pontianak ini bukan sekadar nasihat religius, melainkan panduan praktis untuk kesehatan mental dan spiritual di era modern yang penuh tekanan.


    Jika kita merasa hidup sedang "gelap"—ditimpa masalah, kecemasan, atau kesedihan—maka solusinya bukan mencari lampu baru, melainkan membersihkan kaca yang sudah ada.


    Bagaimana Caranya?:

    * Istighfar: Menghapus debu dosa dengan penyesalan dan permintaan ampun.

    * Sedekah & Amal Shaleh: Mengikis karat kekikiran dan egoisme.

    * Dzikir & Tilawah: Memoles kaca hati agar kembali berkilau seperti bintang mutiara.

    * Menjaga Pandangan & Lisan: Mencegah coretan-coretan baru yang mengotori kejernihan hati.


    Cahaya Itu Ada, Buka Jendelanya


    Renungan ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah mematikan lampu-Nya. Cahaya hidayah selalu tersedia, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Masalahnya, maukah kita meluangkan waktu untuk mengelap debu di kaca hati kita?


    Sebagai seorang pemimpin kepolisian, Kapolresta Pontianak menunjukkan sisi humanis dan spiritual yang jarang terlihat. Ia mengingatkan bahwa ketertiban eksternal (hukum negara) harus diimbangi dengan ketertiban internal (ketenangan hati). Tanpa cahaya di dalam hati, penegakan hukum bisa menjadi keras tanpa kasih sayang. Tapi dengan cahaya iman, keadilan akan ditegakkan dengan kebijaksanaan.


    Mari kita ambil pesan ini sebagai pengingat: Jangan salahkan matahari jika ruangan Anda gelap. Periksa apakah jendela Anda tertutup kotoran.


    Bersihkan hati niscaya, maka cahaya An-Nur itu akan menerangi langkah Anda, bahkan di tengah malam yang paling pekat sekalipun.[]


    Sumber: Humas Polresta Pontianak 

    Penulis: Tim Redaksi Homepublik.id

    Editor: Khoirun Nisa 

    Media: Homepublik.id|Media Nasional Terdepan


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler