Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Menag Himbau Mahasiswa Berprotes dengan Santun
“Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap kepada Firaun. Meskipun menghadapi penguasa yang dikenal keras, mereka tetap diperintahkan untuk berbicara dengan kata-kata yang baik (qaulan layyinan). Ini adalah teladan tertinggi dalam menyampaikan kebenaran.”
(Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI)
MAKASSAR, SULSEL | 15 Juni 2026 - Di tengah gelombang aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah menuntut keadilan dan reformasi kebijakan, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan yang menarik perhatian publik. Dalam keterangannya kepada wartawan di Makassar pada Senin (15/6/2026), Menag berharap aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa maupun elemen masyarakat tetap mengedepankan bahasa yang santun dan beretika.
Untuk memperkuat pesannya, Nasaruddin mengangkat kisah religius yang sangat ikonik: pertemuan Nabi Musa AS dengan Firaun. Menurutnya, meskipun Firaun adalah simbol tirani dan kesombongan, Nabi Musa tetap diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan dakwah dengan qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut).
"Ini bukan berarti kita harus takut atau tunduk. Tapi, cara penyampaian yang santun seringkali lebih efektif menembus hati dan membuka ruang dialog daripada kemarahan yang destruktif," jelas Nasaruddin.
Dua Sisi Mata Uang: Efektivitas Dialog vs Ekspresi Kekecewaan
Pesan Menag tersebut langsung memunculkan beragam tanggapan di masyarakat, mencerminkan polarisasi pandangan tentang fungsi demonstrasi dalam demokrasi:
1. Kubu Pro-Santun: Diplomasi Lebih Membuahkan Hasil
Sebagian pihak, termasuk kalangan akademisi dan tokoh agama, menilai bahwa penyampaian aspirasi secara santun akan membuat dialog lebih mudah terbangun. Mereka berargumen bahwa pemerintah cenderung defensif jika dihadapkan pada massa yang emosional. Dengan pendekatan rasional dan etis, pesan inti dari tuntutan mahasiswa—seperti perbaikan kualitas pendidikan, kepastian hukum, atau kesejahteraan ekonomi—akan lebih didengar dan ditindaklanjuti.
2. Kubu Realis: Demonstrasi Adalah Jeritan Hati yang Terluka
Di sisi lain, sebagian besar aktivis mahasiswa dan pengamat sosial berpendapat bahwa demonstrasi merupakan bentuk ekspresi kekecewaan publik yang sudah mencapai titik didih. Mereka menilai bahwa menyamakan pemerintah dengan Firaun dalam konteks "kesantunan" bisa jadi kurang pas jika ketidakadilan yang dirasakan sudah sangat sistemik.
"Emosi massa sering kali sulit dipisahkan dari aksi protes. Ketika rakyat lapar, ketika hukum tumpul, dan ketika masa depan dirampas, mereka tidak butuh ceramah soal kelembutan. Mereka butuh perubahan nyata. Santun itu penting, tapi jangan sampai menjadi alat untuk membungkam kemarahan yang sah," ujar salah satu koordinator aksi di Jakarta.
Mencari Titik Temu di Tengah Gelombang Protes
Pernyataan Menag Nasaruddin Umar sebenarnya ingin mengingatkan bahwa substansi perjuangan tidak boleh rusak oleh cara penyampaian yang anarkis. Sejarah membuktikan bahwa gerakan sosial yang bertahan lama dan membawa perubahan fundamental biasanya dibangun di atas disiplin moral dan strategi komunikasi yang cerdas, bukan sekadar amarah sesaat.
Namun, negara juga harus introspeksi: mengapa rakyat merasa harus berteriak? Mengapa saluran aspirasi formal sering kali buntu? Jika pemerintah ingin dihormati dan didengarkan dengan santun, maka ia harus terlebih dahulu menunjukkan sikap mendengarkan yang tulus dan responsif.
Demonstrasi adalah hak konstitusional. Santun adalah nilai luhur agama. Keduanya tidak harus bertentangan, asalkan ada niat baik dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah bangsa, bukan sekadar memenangkan ego politik.[]
Sumber: Konferensi Pers Menteri Agama RI di Makassar, Respons Aktivis Mahasiswa, & Analisis Pengamat Sosial-Politik
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Achmad Efendi
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

