Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Terminal Kijing Mulai Layani Peti Kemas, Lidik Krimsus RI Kalbar Desak Perbaikan dan Pelebaran Jalan
“Pelabuhan modern tidak boleh diakses dengan jalan yang primitif. Jika infrastruktur darat tidak segera diperlebar dan ditata, kesuksesan Terminal Kijing hanya akan diiringi oleh statistik kecelakaan lalu lintas yang meningkat.”
(Badrut Tamam. AQ, Ketua Lidik Krimsus RI Dewan Pimpinan Provinsi Kalimantan Barat)
PONTIANAK, KALBAR | 11 Juni 2026 - Kalimantan Barat resmi memasuki babak baru dalam peta logistik nasional. Pada Rabu (10/6/2026), PT Pelindo Regional 2 Pontianak Grup secara resmi melayani kegiatan bongkar muat peti kemas perdana di Terminal Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah. Momen ini menandai kesiapan terminal tersebut sebagai salah satu pelabuhan modern terbesar di Kalbar dengan rute perdana menghubungkan Pasir Gudang–Batam–Kijing–ICA–Kijing–Pasir Gudang.
Dalam operasi perdananya, Terminal Kijing berhasil membongkar 70 peti kemas kosong, sebuah langkah awal yang simbolis namun strategis untuk mendukung efisiensi arus barang dan meningkatkan daya saing ekspor daerah. General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Yanto, menyebut peristiwa ini sebagai "tonggak penting" yang akan membuka peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi lebih luas bagi Kalbar.
Namun, di balik euforia peresmian layanan kontainer, muncul peringatan keras dari elemen masyarakat dan pengawas publik terkait kesiapan infrastruktur darat penunjangnya.
Peringatan Lidik Krimsus RI Kalbar: Jalan Sempit, Truk Parkir Liar, Potensi Bencana
Ketua Lembaga Informasi Data Investigasi Korupsi dan Kriminal Khusus (Lidik Krimsus) Republik Indonesia Wilayah Kalimantan Barat memberikan apresiasi atas beroperasinya Terminal Kijing, namun sekaligus menyampaikan kritik tajam dan mendesak kepada Pemerintah Provinsi Kalbar serta Pemkab Mempawah.
Menurutnya, pembukaan layanan peti kemas harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur jalan akses. Saat ini, ruas jalan menuju dan dari Pelabuhan Internasional Kijing dinilai terlalu sempit untuk menampung lonjakan lalu lintas truk trailer dan kontainer.
"Kami menghimbau pemerintah agar cepat tanggap. Ruas jalan yang ada saat ini sangat menghambat pengguna jalan lain. Tidak sedikit laka lantas, insiden atau kecelakaan lalu lintas yang dipicu oleh sempitnya jalur dan manuver truk besar," ujar Ketua Lidik Krimsus RI Kalbar dalam rilisnya.
Selain masalah lebar jalan, fenomena truk kontainer yang parkir di bahu jalan juga menjadi sorotan utama. Praktik ini tidak hanya memicu kemacetan parah, tetapi juga menciptakan blind spot berbahaya bagi pengendara sepeda motor dan mobil kecil, terutama di malam hari atau saat cuaca buruk.
Desakan Solusi Konkrit: Jalur Khusus & Penegakan Hukum
Lidik Krimsus RI Kalbar mendesak agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan dermaga, tetapi juga pada konektivitas darat. Beberapa solusi mendesak yang diajukan meliputi:
1. Pelebaran Ruas Jalan Prioritas: Segera melakukan pelebaran pada titik-titik bottleneck (kemacetan) di akses menuju dan dari pelabuhan.
2. Pembuatan Jalur Khusus Kontainer: Mengatur jalur khusus atau waktu tertentu untuk lalu lintas alat berat agar tidak berbaur dengan kendaraan pribadi.
3. Penyediaan Area Parkir Resmi: Membangun area parkir tunggu (waiting area) yang memadai bagi truk-truk kontainer, sehingga mereka tidak lagi memenuhi bahu jalan umum.
4. Penegakan Hukum Lalu Lintas: Polres Mempawah melalui Satlantas Polres Mempawah dan Satlantas Polda Kalbar diminta untuk lebih tegas menindak pelanggaran parkir liar yang membahayakan keselamatan umum.
Dan dari beberapa alasan diatas semestinya segera dilakukan dengan baik dan benar bukan dengan cara tambal sulam dan sarat dengan dugaan sarana praktik korupsi dalam pengerjaannya.
"Jangan biarkan kesuksesan ekonomi dikorbankan oleh nyawa manusia. Jika hal ini tidak segera diurai, kita khawatir akan memakan korban jiwa yang lebih banyak di masa depan," tegas Badrut.
Harapan Besar di Balik Tantangan Infrastruktur
Meski ada catatan kritis, keberadaan layanan peti kemas di Terminal Kijing tetap disambut positif oleh pelaku usaha. Selama ini, ketergantungan Kalbar pada pelabuhan di luar provinsi untuk ekspor-impor kontainer sering kali menambah biaya logistik dan waktu tunggu. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan biaya distribusi barang bisa ditekan, harga komoditas lokal menjadi lebih kompetitif, seperti harga sawit, kelapa dan hasil pertanian dan perkebunan lainnya agar kiranya mampu mengangkat harga jual petani lokal. Termasuk menekan arus investasi masuk ke kawasan industri di sekitar Mempawah dan Singkawang serta sekitarnya.
Pelindo berkomitmen terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan stakeholders terkait untuk memastikan Terminal Internasional Kijing berkembang optimal. Namun, kolaborasi tersebut harus mencakup aspek keselamatan publik dan kelayakan infrastruktur pendukung.
Keseimbangan antara Ekonomi dan Keselamatan
Operasional perdana Terminal Internasional Kijing adalah kabar baik bagi perkembangan ekonomi Kalimantan Barat. Namun, pesan dari Lidik Krimsus RI Kalbar adalah pengingat penting: Pembangunan infrastruktur harus holistik. Sebuah pelabuhan kelas dunia tidak akan berfungsi maksimal jika diakses melalui jalan yang tidak layak dan berbahaya.
Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemkab Mempawah kini diuji kecepatan responsnya. Apakah akan menunggu terjadi kecelakaan fatal sebelum bertindak? Ataukah akan proaktif memperbaiki akses jalan dan menata lalu lintas truk sejak dini?
Telah banyak menelan korban dalam sebulan terakhir akibat parkir sembarangan dan ruas jalan yang sempit, seperti halnya laka beruntun yang terjadi di akhir Mei lalu dan beberapa laka lantas di awal Juni.
Masyarakat menunggu aksi nyata, bukan sekadar janji. Karena di setiap truk yang melintas, tersimpan harapan ekonomi, namun juga nyawa para pengguna jalan yang berhak pulang dengan selamat.[]
Sumber: Rilis PT Pelindo Regional 2 Pontianak & Pernyataan Pers Lidik Krimsus RI Wilayah Kalbar
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Hamka
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

