Homepublik.id|Media Nasional Terdepan
Surat Satir Sony Sonjaya dari Sel Tahanan Bongkar Motif Politik di Balik Korupsi MBG
“Dia yang bermain dari bawah, malah menjelekkan orang! Itu tukang fitnah sejati. Jika mau jabatan, minta saja baik-baik pada Presiden, jangan tumbalkan saya!”
(Sony Sonjaya (via kuasa hukum Elza Syarief), Mantan Wakil Kepala BGN)
JAKARTA | 14 Juni 2026- Skandal korupsi megaproyek Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak paling dramatis. Bukan hanya soal angka kerugian triliunan rupiah, kini muncul konflik internal yang mengindikasikan adanya permainan politik kotor di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, yang saat ini ditahan Kejaksaan Agung, justru mengirimkan "hadiah" berupa surat tulisan tangan berisi sindiran tajam kepada penerusnya, Kepala BGN Nanik S. Deyang.
Surat yang dibongkar oleh kuasa hukumnya, Elza Syarief, dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Tutur TV bersama Don Bosco Selamun (Sabtu, 13/6/2026), bukan sekadar ucapan selamat. Itu adalah serangan balik mematikan yang menuduh Nanik sengaja memfitnah Sony demi mengamankan kursi nomor satu di BGN saat para petinggi lama sibuk diperiksa penyidik.
Daftar 26 Nama: Bom Waktu Justice Collaborator
Yang lebih mengejutkan, Elza Syarief mengonfirmasi bahwa nama Nanik S. Deyang masuk dalam daftar 26 orang yang disebut Sony Sonjaya sebagai pihak yang diduga terlibat atau mengetahui aliran dana haram program MBG. Melalui permohonan Justice Collaborator (JC) yang sedang didalami Kejagung, Sony menegaskan siap "mati" untuk membongkar tuntas jaringan korupsi ini.
"Nama Kepala BGN Nanik S. Deyang sudah kami sebutkan kepada penyidik. Dia ada dalam daftar 26 nama yang berkaitan dengan perkara ini," tegas Elza. Pernyataan ini langsung membuat posisi Nanik goyah, mengingat ia baru saja dilantik menggantikan Dadan Hindayana di tengah badai korupsi.
Modus "Tumbal Kambing": Percepatan SPPG vs Ambisi Pribadi?
Dalam surat satirnya, Sony mengklaim bahwa seluruh langkah percepatan perluasan Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) yang ia lakukan adalah murni eksekusi instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto. Ia menyindir keras bahwa Nanik, yang sebelumnya disebut-sebut sebagai "pemain dari bawah", justru memanfaatkan momentum pemeriksaan rekan-rekannya untuk naik jabatan dengan cara menjelekkan orang lain.
"Kalau dia ingin jadi Kepala BGN, seharusnya dia datang ke Istana, bicara empat mata dengan Bapak Presiden. Kenapa harus mengorbankan saya? Ini jelas modus mencari aman sendiri dengan menyalahkan bawahan," cecar Elza menirukan kemarahan kliennya.
Analisis hukum menunjukkan pola klasik dalam kasus korupsi birokrasi: saling lempar tanggung jawab. Namun, keterlibatan nama pejabat aktif seperti Nanik dalam daftar JC Sony menambah kompleksitas kasus. Apakah Nanik benar-benar bersih, ataukah ia adalah bagian dari rantai pasok korupsi yang berhasil "survive" dengan menjadi pelapor?
Respons Kejagung: Nanik Siap Diperiksa Sebagai Saksi?
Menanggapi desakan Sony Sonjaya, sumber internal Kejaksaan Agung membenarkan bahwa nama Nanik S. Deyang memang tercatat dalam berkas pemeriksaan. "Kami akan memanggil siapa pun yang namanya disebut oleh tersangka atau saksi kunci, termasuk Kepala BGN yang baru, jika diperlukan untuk memperjelas fakta hukum," ujar seorang pejabat Jampidsus tanpa menyebut nama secara spesifik.
Langkah ini penting untuk menguji kredibilitas daftar 26 nama tersebut. Jika Nanik terbukti hanya menjadi "kambing hitam" politik, maka integritas proses suksesi kepemimpinan BGN patut dipertanyakan. Sebaliknya, jika Nanik terbukti terlibat, maka rotasi jabatan di BGN hanyalah rekayasa pencucian tangan belaka.
Uang Rakyat Bukan Alat Tumbal Politik
Kasus Sony Sonjaya vs Nanik S. Deyang adalah cerminan buram tata kelola program strategis nasional. Ketika uang rakyat senilai triliunan rupiah dikelola dalam ekosistem yang penuh intrik, saling fitnah, dan ambisi pribadi, maka anak-anak Indonesia lah yang akhirnya menjadi korban.
Publik tidak butuh drama perebutan kursi di BGN. Rakyat butuh transparansi total: Siapa saja 26 nama itu? Ke mana lari uang mark-up motor listrik? Dan apakah pergantian kepala BGN ini benar-benar untuk perbaikan, atau sekadar ganti pemain dalam panggung korupsi yang sama?
Kejaksaan Agung kini memegang kendali. Jangan biarkan surat satir Sony Sonjaya hanya menjadi hiburan politik sesaat. Jadikan itu pintu masuk untuk membongkar seluruh jaringan parasit yang memakan hak hidup generasi masa depan. Karena sejatinya, koruptor MBG tidak layak diberi ampun, apalagi dijadikan alat tumbal kepentingan segelintir elit.[]
Sumber: Wawancara Eksklusif Elza Syarief di Tutur TV, Rilis Kejagung, & Analisis Hukum Pidana Khusus
Editor: Tim Redaksi Homepublik.id
Penulis: Achmad Efendi
Media: Homepublik.id | Media Nasional Terdepan

